Rupiah Melemah ke Rp17.952 per Dolar AS

waktu baca 3 menit

Ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS-Iran mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar, bahkan ketika produksi minyak mentah AS yang mencapai rekor tertinggi menggarisbawahi peningkatan pasokan global

Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu sore. Mata uang Garuda turun 45 poin atau sekitar 0,25 persen ke level Rp17.952 per dolar AS, dari posisi sebelumnya di Rp17.907 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

“Ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS-Iran mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar, bahkan ketika produksi minyak mentah AS yang mencapai rekor tertinggi menggarisbawahi peningkatan pasokan global,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Menurutnya, pelaku pasar masih mencermati dinamika perundingan yang berlangsung di Qatar, terutama setelah Iran menolak dialog langsung dengan pejabat tinggi AS yang datang ke kawasan tersebut. Teheran disebut hanya bersedia berkomunikasi melalui jalur mediator pada level teknis.

Kondisi ini dinilai membuat prospek tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat menjadi semakin tidak pasti, termasuk transisi dari gencatan senjata yang baru berlangsung sekitar dua pekan.

Di sisi lain, harga minyak dunia mengalami tekanan cukup dalam setelah sebelumnya sempat melonjak akibat konflik Iran. Harga Brent tercatat turun sekitar 38 persen sepanjang kuartal II, setelah pada kuartal I sempat melonjak hingga 94 persen. Penurunan ini menjadi salah satu yang terdalam sejak kejatuhan 66 persen pada kuartal pertama 2020.

Secara bulanan, harga minyak global juga melemah sekitar 21 persen pada Juni, setelah turun 19 persen pada Mei, yang merupakan penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2020. Hal ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.

“Tidak adanya pembicaraan langsung telah memperkuat ketidakpastian tentang seberapa cepat Washington dan Teheran dapat menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan dalam kerangka negosiasi 60 hari mereka, termasuk masa depan Selat Hormuz,” kata Ibrahim.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk membaca arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Data JOLTS pada Selasa (30/6) menunjukkan jumlah lowongan kerja naik menjadi 7,594 juta pada Mei, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 7,3 juta. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Konsumen Conference Board AS pada Juni turut membaik seiring meredanya ketegangan geopolitik yang sebelumnya menekan harga energi.

“Perhatian sekarang beralih ke laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis malam ini, diikuti oleh laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Kamis (2/7), yang akan dirilis sehari lebih awal di tengah pekan yang dipersingkat karena hari libur AS,” ujar dia.

Dari dalam negeri, tekanan tambahan datang dari rilis data neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatat defisit pada Mei 2026 sebesar 1,61 miliar dolar AS. Defisit ini menjadi yang pertama setelah enam tahun Indonesia mencatat surplus beruntun.

“Kondisi defisit itu disebabkan nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor, yakni sebesar 24,81 miliar dolar AS, sedangkan ekspor RI 23,20 miliar dolar AS. Ini adalah defisit pertama RI sejak surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020,” ungkapnya.

Inflasi tahunan pada Juni 2026 juga tercatat sebesar 3,34 persen (yoy), dengan kontribusi utama dari kelompok makanan, transportasi, serta perawatan pribadi.

Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 108,27 pada Juni 2025 menjadi 111,89 pada Juni 2026, menunjukkan adanya kenaikan harga dalam setahun terakhir, namun masih dalam kisaran target kebijakan moneter.

Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis oleh Bank Indonesia juga ikut melemah ke level Rp17.961 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.899 per dolar AS.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka