Indonesia Perkuat Kemitraan Investasi Strategis dengan Australia

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menegaskan bahwa Indonesia terus memperkuat kerja sama strategis dengan Australia melalui peningkatan investasi yang berkualitas.

Ia menyampaikan bahwa hubungan ekonomi kedua negara saat ini berada pada momentum yang tepat karena sifatnya saling melengkapi, terutama didukung oleh kerangka kerja sama Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement IA CEPA yang semakin matang.

"Kedua negara memiliki ekonomi yang saling melengkapi, didukung oleh kerangka kerja sama IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement) yang semakin matang," kata Wamen Todotua dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Menurutnya, berbagai agenda seperti kunjungan kerja, dialog dengan pelaku usaha, hingga partisipasi dalam Indonesia-Australia Business Summit 2026 menjadi langkah nyata untuk mendorong investasi yang berfokus pada hilirisasi, infrastruktur, ketahanan pangan, transisi energi, dan ekonomi berkelanjutan.

Ia juga mengajak investor Australia untuk terlibat dalam penguatan ekonomi Indonesia melalui proyek-proyek strategis yang memiliki nilai tambah tinggi.

"Kami mengundang investor Australia untuk menjadi bagian dari babak baru pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui investasi yang berorientasi pada hilirisasi, infrastruktur, ketahanan pangan, transisi energi, dan ekonomi hijau," ujarnya saat menjadi pembicara kunci dalam Indonesia-Australia Business Summit IABS for Indonesia Updates 2026 di Sydney, Australia, Selasa.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Todotua juga melakukan pertemuan dengan Pure Battery Technologies PBT, perusahaan teknologi material baterai asal Australia yang dipimpin Chairman Stephen Wilmot.

Pertemuan itu membahas rencana investasi pembangunan fasilitas precursor Cathode Active Material pCAM di Indonesia yang dinilai penting untuk memperkuat ekosistem industri baterai nasional.

Selain itu, dibahas pula peluang kerja sama, kesiapan lokasi investasi, serta percepatan realisasi proyek agar dapat segera berjalan.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia telah memiliki fasilitas High Pressure Acid Leach HPAL dan akan segera memiliki manufaktur sel baterai. Namun, masih ada tahapan penting yang perlu dilengkapi.

"Indonesia sudah memiliki fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) dan dalam waktu dekat akan memiliki manufaktur sel baterai. Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda. Di sinilah investasi seperti Pure Battery Technologies menjadi krusial untuk melengkapi ekosistem baterai yang terintegrasi penuh," ujarnya.

Selain sektor baterai, pembahasan juga dilakukan dengan BCI Minerals terkait peluang hilirisasi garam industri untuk mendukung kebutuhan bahan baku industri nasional.

Dalam kesempatan itu, Todotua juga menyoroti pentingnya penguatan konektivitas logistik kawasan melalui optimalisasi Alur Laut Kepulauan Indonesia ALKI II yang menjadi jalur strategis perdagangan internasional.

Ia menjelaskan bahwa ALKI II merupakan jalur penting yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui Selat Lombok dan Selat Makassar, dengan nilai perdagangan yang sangat besar pada 2024.

Menurutnya, potensi tersebut dapat menjadi peluang besar bagi Indonesia dan Australia untuk memperkuat rantai pasok, logistik, serta investasi di kawasan secara lebih terintegrasi.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka