Jakarta (KABARIN) - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yakin nilai tukar rupiah punya peluang besar untuk menguat hingga menyentuh angka Rp15.000 per dolar AS. Keyakinan itu ia sampaikan dalam ajang Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Jakarta, Selasa.
"Menurut saya, kalau rupiah bergerak ke sekitar Rp15.000 per dolar AS, itu tidak terlalu sulit. Saya tidak bisa berbicara mewakili bank sentral, tapi kalau saya di posisi mereka, level itu bukan sesuatu yang sulit dicapai," kata Purbaya.
Menurut Purbaya, kunci penguatan rupiah ada pada perbaikan fundamental ekonomi yang dilakukan lebih cepat dan konsisten. Jika pertumbuhan ekonomi bisa digenjot lebih tinggi, dampaknya bakal terasa langsung ke kesejahteraan masyarakat.
Kondisi ekonomi yang makin solid, lanjut dia, akan membuat Indonesia semakin menarik di mata investor asing. Mereka tentu ingin ikut menikmati keuntungan dari pertumbuhan ekonomi nasional.
Ketika investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) masuk, arus modal itu akan ikut mendorong penguatan rupiah.
"Ketika orang melihat saya bekerja serius memperbaiki kondisi ekonomi, dan ketika mereka mulai melihat ekonomi benar-benar membaik, modal akan masuk dan rupiah akan menguat hampir secara otomatis," ujar Purbaya.
Menkeu juga menilai posisi rupiah saat ini sebenarnya belum mencerminkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia yang sesungguhnya. Pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa, rupiah menguat 44 poin atau 0,26 persen menjadi Rp16.754 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.798 per dolar AS.
Meski sempat tertekan, Purbaya menepis anggapan bahwa kondisi rupiah sekarang bisa memicu krisis seperti yang terjadi pada 1997-1998. Menurut dia, situasi saat ini jauh lebih terkendali karena otoritas bergerak sejalan menjaga stabilitas nilai tukar.
Selain Bank Indonesia yang memegang peran utama, ada juga otoritas lain yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yaitu Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Sebagai Menkeu, Purbaya otomatis menjabat Ketua KSSK. Ia menyebut akan menggelar rapat untuk memitigasi dampak jika terjadi penguatan dolar AS terhadap rupiah. Meski begitu, menurut dia, posisi rupiah saat ini belum berada di level yang berpotensi memicu kekacauan ekonomi.
"Kami dan bank sentral juga berupaya mendorong rupiah tetap di bawah Rp17.000. Level yang menurut saya ideal sejalan dengan asumsi APBN yaitu sekitar Rp16.500 per dolar AS," jelas Menkeu.
"Saya percaya bank sentral punya kemampuan untuk mengendalikan itu," tambah dia.
Melalui koordinasi antar lembaga dan perbaikan fundamental ekonomi, pemerintah optimistis rupiah masih punya ruang untuk menguat lebih jauh ke depan.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026