Jakarta (KABARIN) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen secara tahunan (yoy) dan masih banyak ditopang oleh konsumsi rumah tangga serta pembentukan modal tetap bruto (PMTB).
Dari sisi pengeluaran, kedua komponen ini menyumbang secara akumulatif 82,65 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Hal ini terutama didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat yang menyebabkan kenaikan pengeluaran untuk makan dan minum, transportasi dan komunikasi, serta penambahan barang modal berupa mesin dan perlengkapan,” ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat Rp13.580,5 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp23.821,1 triliun.
Amalia menjelaskan, konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama pertumbuhan dengan kontribusi 2,62 persen. Secara tahunan, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,98 persen, dengan kenaikan tertinggi pada pengeluaran restoran dan hotel mencapai 6,38 persen seiring melonjaknya aktivitas wisata selama liburan akhir tahun.
PMTB menjadi kontributor kedua terbesar dengan sumbangan 1,58 persen. Secara keseluruhan, PMTB tumbuh 5,09 persen sepanjang 2025, dengan subkomponen mesin dan perlengkapan melonjak 17,99 persen akibat peningkatan impor mesin dan meningkatnya produksi industri mesin lokal.
Sementara itu, net ekspor memberikan kontribusi 0,74 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Ekspor Indonesia naik 7,03 persen sepanjang 2025, didorong peningkatan ekspor barang nonmigas dan jasa.
Beberapa komoditas nonmigas yang naik nilai dan volumenya antara lain lemak dan minyak hewani atau nabati, besi dan baja, mesin dan peralatan listrik, serta kendaraan beserta bagiannya.
Jika dilihat dari distribusi ke total PDB, konsumsi rumah tangga menempati porsi terbesar yakni 53,88 persen, diikuti PMTB sebesar 28,77 persen, dan ekspor 22,85 persen.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi penggerak utama pertumbuhan dengan kontribusi 1,07 persen dan pertumbuhan 5,30 persen. Sektor perdagangan tumbuh 5,49 persen dengan sumbangan 0,72 persen, sementara pertanian tumbuh 5,33 persen, berkontribusi 0,60 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Pertumbuhan ini didorong oleh membaiknya industri penghasil komoditas ekspor seperti CPO dan logam dasar, serta meningkatnya produksi tanaman pangan, peternakan, dan perikanan,” ujar Amalia.
Untuk kuartal IV 2025, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,39 persen (yoy) dan 0,86 persen secara kuartalan (qtq).
Secara regional, wilayah Jawa dan Sulawesi mencatat pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional sepanjang 2025.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026