News

Sekjen PBB Sebut Dunia Masuki 'Masa Kelam' Tanpa Batasan Nuklir

Hamilton, Kanada (KABARIN) - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut dunia kini memasuki “masa kelam” setelah berakhirnya perjanjian terakhir antara Amerika Serikat dan Rusia terkait pengendalian senjata nuklir. Perjanjian Pengurangan dan Pembatasan Senjata Serangan Strategis Lebih Lanjut atau New START resmi berakhir pada 5 Februari, sekaligus menutup 15 tahun terakhir masa pembatasan senjata nuklir strategis antara dua negara dengan persenjataan nuklir terbesar di dunia.

"Berakhirnya Traktat New START tengah malam ini merupakan masa yang kelam bagi perdamaian dan keamanan internasional," kata Guterres dalam pernyataannya pada Rabu (4/2).

Ia menegaskan, "kita menghadapi dunia tanpa batasan yang mengikat terkait persenjataan nuklir strategis antara Federasi Rusia dan Amerika Serikat." Menurut Guterres, selama ini perjanjian pengendalian senjata nuklir antara kedua negara berperan besar menjaga stabilitas global. Aturan-aturan tersebut membantu mencegah bencana nuklir sekaligus menurunkan risiko salah perhitungan yang bisa berujung fatal.

Guterres mengingatkan, sejak era Perundingan Pembatasan Senjata Strategis (SALT) hingga New START, perjanjian bilateral AS dan Rusia telah memangkas ribuan senjata nuklir dan ikut memperkuat keamanan global. Namun, berakhirnya New START berarti capaian puluhan tahun itu kini terancam hilang begitu saja.

“Pembubaran capaian selama puluhan tahun ini tidak bisa terjadi pada waktu yang lebih buruk,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa “risiko penggunaan senjata nuklir saat ini merupakan yang tertinggi dalam beberapa dekade.”

Guterres juga menegaskan bahwa "risiko penggunaan senjata nuklir saat ini merupakan yang tertinggi dalam beberapa dekade." Ia memperingatkan, ketiadaan batasan strategis yang terverifikasi berpotensi memicu kekhawatiran besar soal keamanan global, apalagi di tengah ketegangan geopolitik yang makin meningkat dan perkembangan teknologi militer yang sangat cepat.

Meski situasinya mengkhawatirkan, Guterres menilai kondisi ini masih bisa jadi momentum untuk “menyetel ulang” upaya pengendalian senjata global.

"Dunia kini menantikan Federasi Rusia dan Amerika Serikat untuk melaksanakan apa yang mereka ucapkan," katanya, sambil mendesak kedua negara kembali duduk di meja perundingan. Ia menyerukan lahirnya kesepakatan baru yang "memulihkan batasan yang bisa diverifikasi, mengurangi risiko, dan memperkuat keamanan kolektif."

Sebagai informasi, New START ditandatangani oleh Amerika Serikat dan Rusia pada 8 April 2010 di Praha dan mulai berlaku pada 5 Februari 2011. Perjanjian ini menggantikan START I yang berakhir pada 2009 serta Strategic Offensive Reductions Treaty (SORT) 2002, seperti dicatat Arms Control Association yang berbasis di Amerika Serikat.

Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: