Soul

Psikolog Ingatkan Efek Negatif Sosial Media Terhadap Perilaku Remaja

Jakarta (KABARIN) -

Penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan bisa membawa dampak negatif bagi perilaku remaja. Hal ini diingatkan oleh psikolog anak Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, yang menilai paparan konten digital secara terus-menerus dapat memengaruhi cara berpikir dan kebiasaan remaja.

Ketika dihubungi ANTARA pada Jumat (13/3), Prof. Rose menjelaskan bahwa algoritma di berbagai platform digital membuat pengguna, termasuk remaja, terus melihat konten yang sesuai dengan minat mereka.

"Kalau dia senang gim, maka yang muncul terus gim. Kalau belanja, yang muncul terus belanja. Akhirnya dunianya hanya itu-itu saja," katanya.

Menurutnya, kondisi ini membuat remaja terus terpapar jenis konten yang sama secara berulang. Akibatnya, mereka bisa semakin sulit melepaskan diri dari layar gawai dan berisiko mengalami ketergantungan pada platform digital.

Selain itu, kemudahan dalam melakukan transaksi secara digital juga dapat memicu perilaku konsumtif pada remaja. Mereka bisa dengan mudah membeli sesuatu secara daring tanpa benar-benar memahami proses mendapatkan uang.

"Mereka tahu cara membelanjakan, tapi tidak tahu bagaimana mencari uangnya. Karena semua terasa mudah dan tidak terlihat," katanya.

Prof. Rose menilai kondisi tersebut dapat memicu perilaku impulsif pada remaja, terutama jika mereka menggunakan platform digital tanpa edukasi dan pengawasan dari orang tua.

Karena itu, ia menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengajarkan anak dan remaja untuk mengatur penggunaan gawai. Salah satu caranya adalah dengan membatasi penggunaan gadget hanya untuk kegiatan yang penting, seperti kebutuhan sekolah atau aktivitas produktif.

"Yang perlu diajarkan adalah bagaimana menahan diri, bagaimana mengontrol penggunaan gadget supaya tidak berlebihan," katanya.

Menurutnya, orang tua tetap perlu mendampingi dan mengawasi anak yang sudah memasuki usia pra-remaja maupun remaja saat menggunakan platform digital.

Pendampingan ini penting karena pada fase tersebut, berbagai aspek perkembangan remaja seperti kemampuan sosial, berpikir kritis, dan kreativitas masih terus berkembang.

Jika sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk mengakses platform digital, maka perkembangan kemampuan tersebut berisiko tidak berjalan secara optimal.

Sementara itu, psikolog anak Alva Paramitha, S.Psi., Psikolog, BFRP menjelaskan bahwa ketertarikan anak dan remaja terhadap media sosial juga berkaitan dengan cara kerja otak mereka yang masih berkembang.

Menurut Alva, sistem otak anak dan remaja cenderung lebih sensitif terhadap stimulasi cepat yang ditawarkan oleh platform digital.

"TikTok dan reels Instagram dirancang dengan video pendek, scroll tanpa henti, dan notifikasi. Itu memberi instant reward sehingga memicu keinginan untuk terus melihat konten berikutnya," kata Alva kepada ANTARA pada Jumat.

Selain itu, masa remaja juga merupakan fase pencarian identitas. Pada tahap ini, banyak remaja mencari pengakuan dari lingkungan sekitar, termasuk melalui media sosial.

"Ketika mendapat banyak likes atau komentar, muncul rasa diterima. Itu bentuk validasi yang membuat mereka ingin terus aktif," ujarnya.

Alva juga menjelaskan bahwa algoritma media sosial secara otomatis menyajikan konten yang relevan dengan minat pengguna. Hal ini membuat anak maupun remaja merasa konten yang muncul selalu menarik dan dekat dengan kehidupan mereka.

"Anak merasa kontennya menarik dan dekat dengan dirinya. Itu membuat mereka betah dan sulit berhenti," kata dia.

Di sisi lain, pemerintah juga telah memberlakukan peraturan yang membatasi anak-anak di bawah usia 16 tahun untuk mengakses platform digital berisiko tinggi. Kebijakan ini bertujuan melindungi mereka dari paparan konten yang berpotensi berdampak negatif.

Meski demikian, para psikolog menekankan bahwa aturan tersebut tetap membutuhkan dukungan dari orang tua. Peran keluarga dinilai sangat penting untuk memastikan anak-anak bisa menggunakan teknologi digital secara sehat dan seimbang.

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: