Moskow (KABARIN) - Presiden Emmanuel Macron mengajak semua pihak yang terlibat konflik di Timur Tengah untuk menghentikan sementara aksi militer selama periode hari raya keagamaan, termasuk Idul Fitri, sebagai peluang membuka jalan menuju dialog dan negosiasi.
Dalam pernyataannya menjelang pertemuan tingkat tinggi Uni Eropa, Macron menilai momen keagamaan bisa dimanfaatkan sebagai waktu yang tepat untuk meredakan ketegangan. Ia berharap semua pihak dapat menahan diri agar suasana menjadi lebih kondusif dan memberi ruang bagi upaya diplomasi.
"Saat kawasan ini memasuki musim hari raya keagamaan, saya pikir semua orang harus tenang dan operasi militer harus dihentikan setidaknya selama beberapa hari untuk memberi kesempatan lain bagi negosiasi," kata Macron menjelang KTT para pemimpin Uni Eropa.
Umat Muslim sendiri akan merayakan Idul Fitri pada 20 Maret sebagai penanda berakhirnya bulan Ramadan, yang identik dengan ibadah puasa dan refleksi diri.
Di tengah situasi tersebut, ketegangan di kawasan masih tinggi setelah pada akhir Februari Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah titik di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan itu dilaporkan menimbulkan kerusakan serta korban jiwa, dan memicu respons dari pihak Iran.
Sebagai balasan, Iran kemudian melancarkan serangan ke wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.
Pihak Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menyebut tindakan mereka sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman yang dikaitkan dengan program nuklir Iran. Namun, mereka juga menegaskan adanya keinginan untuk melihat perubahan dalam struktur kekuasaan di Iran.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026