kalsifikasi koroner berpotensi menjadi alat strategis untuk mengidentifikasi individu berisiko tinggi sejak dini, tetapi implementasinya harus disesuaikan dengan kondisi lokal.
Jakarta (KABARIN) - Penyakit jantung sering kali hadir sebagai ancaman yang sunyi, bekerja diam-diam di dalam tubuh manusia tanpa memberi tanda yang kasat mata.
Dalam banyak kasus, ketika gejala muncul, kondisi sudah berada pada tahap yang sulit dikendalikan. Data global menunjukkan betapa seriusnya persoalan ini.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pada 2022 penyakit kardiovaskular menyebabkan sekitar 19,8 juta kematian atau setara 32 persen dari total kematian dunia.
Di Indonesia, tren yang sama juga terlihat, dengan prevalensi penyakit jantung meningkat signifikan menjadi 1,08 persen atau sekitar 2,29 juta orang pada 2023, lebih dari dua kali lipat dibandingkan satu dekade sebelumnya .
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya, terdapat jutaan cerita tentang kehilangan, biaya kesehatan yang membengkak, serta produktivitas yang menurun.
Fenomena ini mendorong pentingnya peran ahli dalam mengembangkan strategi pencegahan. Inilah yang menjadi fokus orasi ilmiah penulis saat dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Jantung dan Pembuluh Darah pada 28 Maret 2026 di Auditorium FK UPH berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Nomor 1785/M/KPT.KP/2026 tertanggal 1 Januari 2026.
Orasi ilmiah yang penulis sampaikan fokus pada upaya pencegahan penyakit kardiovaskular yang harus bergerak dari pendekatan umum menuju pendekatan berbasis risiko individu.
Salah satu konsep yang kini semakin mendapat perhatian adalah kalsifikasi koroner, sebuah fenomena biologis yang sebelumnya sering dianggap sekadar temuan radiologis, tetapi kini dipahami sebagai jendela penting untuk membaca kondisi pembuluh darah manusia.
Kalsifikasi koroner merupakan penumpukan kalsium pada dinding arteri koroner yang mencerminkan proses panjang aterosklerosis yang sering kali berlangsung tanpa gejala selama bertahun-tahun.
Kalsifikasi koroner memberikan bukti anatomis nyata dari proses aterosklerosis. Semakin tinggi tingkat kalsifikasi, semakin besar kemungkinan adanya plak aterosklerotik yang luas dan bermakna secara klinis .
Kalsifikasi koroner umumnya terjadi sebagai bagian dari proses penuaan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan kadar kolesterol yang tinggi.
Hal yang menarik, proses ini berlangsung secara perlahan dan sering kali tanpa gejala. Artinya, seseorang dapat merasa sehat, beraktivitas normal, namun di dalam tubuhnya terjadi perubahan yang signifikan pada pembuluh darah.
Di sinilah letak pentingnya pemahaman baru tersebut. Kalsifikasi koroner tidak lagi dipandang sebagai sekadar “jejak” penyakit, melainkan sebagai indikator yang mampu menunjukkan perjalanan panjang penyakit sebelum muncul gejala. Dengan kata lain, ini bisa menjadi alat bagi tenaga medis untuk melihat lebih dalam kondisi biologis pasien.
Dimensi Baru
Pendekatan ini membawa perubahan cara pandang dalam dunia kedokteran.
Jika sebelumnya penilaian risiko penyakit jantung lebih banyak bertumpu pada faktor-faktor konvensional seperti tekanan darah, kadar gula, dan riwayat keluarga, kini tersedia alat tambahan yang mampu memberikan gambaran langsung tentang kondisi pembuluh darah.
Pendekatan ini tidak menggantikan penilaian klinis, tetapi memperkuatnya melalui bukti objektif.
Pendekatan kalsifikasi koroner memberikan dimensi baru dalam pencegahan penyakit kardiovaskular.
Sekarang tidak lagi hanya bergantung pada faktor risiko konvensional, tetapi juga pada bukti langsung dari proses aterosklerosis untuk menentukan langkah terapi yang lebih tepat.
Perubahan paradigma ini penting karena membuka ruang bagi pencegahan yang lebih personal. Tidak semua orang memiliki risiko yang sama, dan tidak semua membutuhkan intervensi yang sama.
Dengan memanfaatkan informasi dari kalsifikasi koroner, tenaga medis dapat melakukan stratifikasi risiko secara lebih akurat, sehingga keputusan terapi menjadi lebih tepat sasaran.
Lebih jauh lagi, perkembangan teknologi pencitraan dan kecerdasan buatan memperkuat potensi pendekatan ini.
Analisis berbasis teknologi memungkinkan pengukuran kalsifikasi dilakukan dengan lebih konsisten dan efisien, bahkan dari data yang sebelumnya tidak secara khusus ditujukan untuk evaluasi jantung.
Selain itu pemanfaatan teknologi ini membuka peluang skrining yang lebih luas, termasuk melalui pendekatan oportunistik yang relevan untuk sistem kesehatan dengan keterbatasan sumber daya.
Pendekatan Personal
Namun, inovasi ini tidak lepas dari konteks sosial dan sistem kesehatan. Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III, Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, telah mengingatkan bahwa tingginya kasus penyakit jantung di Indonesia menuntut penguatan riset dan pengembangan ilmu kedokteran berbasis teknologi agar mampu menjawab tantangan tersebut secara nyata.
Di sisi lain, penguatan kapasitas akademik juga menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang. Rektor Universitas Pelita Harapan, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, menekankan bahwa kehadiran Guru Besar bukan hanya pencapaian individu, tetapi kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan kedokteran yang berdampak luas bagi masyarakat .
Perspektif ini diperkuat oleh Dekan Fakultas Kedokteran UPH, Prof. Dr. dr. Eka Julianta Wahjoepramono, Sp.BS(K), PhD, yang melihat penguatan keilmuan sebagai bagian dari upaya memperluas akses pelayanan kesehatan ke berbagai daerah, sehingga manfaat inovasi medis tidak hanya dinikmati oleh masyarakat perkotaan.
Ke depan, upaya pencegahan penyakit jantung tidak dapat dilepaskan dari sinergi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebijakan pendidikan.
Indonesia memiliki tantangan tersendiri, mulai dari usia kejadian penyakit yang cenderung lebih muda, tingginya prevalensi merokok, hingga perubahan gaya hidup yang semakin cepat.
Dalam konteks ini, kalsifikasi koroner berpotensi menjadi alat strategis untuk mengidentifikasi individu berisiko tinggi sejak dini, tetapi implementasinya harus disesuaikan dengan kondisi lokal.
Maka kemudian, pesan terpenting dari perkembangan ini adalah bahwa pencegahan bukan lagi sekadar imbauan, melainkan strategi berbasis bukti yang dapat diukur dan dipersonalisasi.
Tubuh manusia selalu memberi sinyal, dan melalui kemajuan ilmu pengetahuan, sinyal tersebut kini dapat dibaca lebih awal dan lebih akurat.
Oleh karena itu, tantangan ke depan bukan hanya tentang bagaimana menemukan teknologi yang lebih canggih, tetapi bagaimana membangun kesadaran kolektif bahwa kesehatan adalah investasi jangka panjang.
Seperti yang tercermin dalam berbagai pandangan para pakar, dari klinisi hingga akademisi, masa depan pencegahan penyakit jantung tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kemampuan seseorang untuk memahami, mengelola, dan merespons risiko sejak dini.
*)Prof. Dr. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K), FIHA, FAPSIC, F adalah Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH).