Foodies

6 Bahan "Red Flag" yang Sering Ngumpet di Camilan Favorit Kamu

Jakarta (KABARIN) - Camilan kemasan memang kelihatan menarik dan praktis buat nemenin aktivitas sehari-hari. Tapi jangan langsung tergoda, karena di balik rasanya yang enak, belum tentu semuanya baik untuk kesehatan.

Pelatih nutrisi dan kebugaran di Life Time Plymouth, Keri Anderson, mengingatkan bahwa banyak camilan kemasan justru dirancang supaya bikin nagih, bukan bikin kenyang.

"Kebanyakan camilan kemasan sebenarnya tidak selalu ‘buruk’, tetapi, banyak yang dirancang agar kita terus ingin makan lagi, bukan benar-benar membuat kenyang atau puas,” kata pelatih nutrisi dan kebugaran di Life Time Plymouth Keri Anderson dikutip dari laman Eat This Not That, Selasa (31/3).

Menurutnya, ada enam bahan “red flag” yang sering tersembunyi dalam camilan favorit dan perlu kamu waspadai.

1. Gula tambahan yang tersamar

Gula tambahan jadi salah satu jebakan paling umum. Bukan cuma gula biasa, tapi juga bentuk lain seperti gula tebu, sirup beras merah, sirup tapioka, hingga konsentrat jus buah.

Kalau muncul dalam beberapa jenis sekaligus di satu produk, jumlahnya bisa cepat banget menumpuk.

"Ini cenderung membuat gula darah melonjak dan sering membuat orang cepat lapar lagi,” kata dia.

2. Minyak nabati yang diproses berlebihan

Minyak seperti kedelai, jagung, atau kanola memang sering dipakai dalam camilan kemasan. Tapi, jenis minyak yang sangat diproses ini bisa bikin kamu tanpa sadar makan berlebihan.

Apalagi kalau sudah dikombinasikan dengan karbohidrat dan garam, efeknya bikin susah berhenti ngemil.

3. Pemanis buatan

Label “rendah gula” kadang terdengar sehat, tapi jangan langsung percaya. Banyak produk justru mengganti gula dengan pemanis buatan seperti sukralosa atau aspartam.

"Bahan seperti sukralosa atau aspartam sering muncul dalam camilan ‘rendah gula’. Bagi sebagian orang, ini justru bisa meningkatkan keinginan makan manis dan membuat sulit merasa puas," ujar Anderson.

4. Daftar bahan yang terlalu panjang

Kalau kamu lihat daftar komposisi yang panjang banget dan sulit dipahami, itu bisa jadi tanda bahaya.

Menurut Anderson, semakin banyak bahan dalam satu produk, biasanya makin jauh dari kata alami.

"Bahan yang lebih sederhana biasanya lebih mudah diproses oleh tubuh," kata Anderson.

5. Rendah protein dan serat

Camilan yang minim protein dan serat mungkin terlihat “ringan”, tapi justru bikin kamu cepat lapar lagi.

Ini salah satu alasan kenapa ngemil bisa jadi kebiasaan yang sulit dihentikan.

"Walaupun terlihat ‘sehat’, jika tidak mengandung protein atau serat, camilan itu kemungkinan tidak akan membuat kenyang lama. Ini salah satu alasan utama orang merasa terus ingin ngemil," kata Anderson.

6. “Perisa alami” dan penguat rasa

Istilah seperti “perisa alami” atau penguat rasa sering muncul di label makanan. Walaupun tidak selalu berbahaya, ini biasanya menunjukkan bahwa produk lebih fokus ke rasa dibanding nilai gizinya.

Anderson mengingatkan, bahan-bahan ini sering kali merupakan senyawa olahan untuk meningkatkan cita rasa.

Buat kamu yang tetap ingin ngemil tanpa rasa khawatir, Anderson menyarankan untuk memilih camilan yang lebih simpel dan alami. Misalnya buah segar, kacang-kacangan, greek yogurt, atau minuman protein.

Selain lebih sehat, pilihan ini juga mengandung kombinasi serat, protein, dan lemak sehat yang bikin kenyang lebih lama dan nggak gampang lapar lagi.

Penerjemah: Pamela Sakina
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: