Beijing (KABARIN) - Kementerian Luar Negeri China menyatakan siap memainkan peran aktif dengan caranya sendiri dalam upaya menengahi hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara.
"Menjaga perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea adalah kepentingan bersama semua pihak. China akan terus memainkan peran konstruktif untuk tujuan ini," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing, Rabu.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bertemu Presiden Xi Jinping pada Senin dan meminta China berperan sebagai mediator untuk memperbaiki hubungan kedua Korea serta membuka kembali pembicaraan mengenai program nuklir Korea Utara. Lee menekankan pentingnya membekukan program nuklir dan rudal Pyongyang untuk mencegah perluasan persenjataan nuklir.
Lee menambahkan komunikasi antara kedua Korea saat ini terputus total dan kepercayaan antarnegara berada di level nol. Ia berharap China bisa menjadi jembatan perdamaian di kawasan tersebut. Xi menanggapi dengan meminta Seoul bersabar menghadapi ketegangan yang tinggi dengan Pyongyang.
Mao Ning menambahkan bahwa kedua presiden telah mencapai pemahaman penting terkait saling menghormati kepentingan inti masing-masing dan memperkuat koordinasi kebijakan serta kerja sama internasional.
"China siap bekerja sama dengan Korea Selatan untuk meningkatkan komunikasi, memperdalam kerja sama, dan mewujudkan hasil nyata bagi kedua negara," ujar Mao Ning.
Sebelumnya, Pyongyang mengonfirmasi uji coba rudal hipersonik, dengan Kim Jong Un menyebut hal itu penting untuk memperkuat pencegahan nuklir di tengah krisis geopolitik yang terkait serangan AS terhadap Venezuela.
China tetap menjadi mitra dagang utama dan pendukung diplomatik Korea Utara, sekaligus berulang kali mendorong semua pihak untuk menahan diri dan menolak sanksi tambahan terhadap Pyongyang meski uji coba senjatanya dilarang PBB.
Korea Utara sendiri masih menolak dialog dengan Korea Selatan maupun AS dan terus memperluas program nuklirnya.
Sumber: ANTARA