Jakarta (KABARIN) - Pemerintah yakin kebijakan penyesuaian batas free float saham dari 7,5 persen menjadi 15 persen bisa mengembalikan kepercayaan pasar. Langkah ini diambil sebagai respons atas sorotan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait transparansi free float di pasar modal Indonesia.
Penyesuaian tersebut dinilai sejalan dengan praktik di berbagai negara. Selama ini, free float di Bursa Efek Indonesia (BEI) tergolong lebih rendah dibandingkan Malaysia, Hong Kong, dan Jepang yang masing-masing sudah berada di angka 25 persen, serta Thailand yang juga akan menerapkan batas 15 persen.
“Jadi kita ambil angka yang relatif lebih terbuka dan tata kelola lebih baik,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam wawancara cegat di Jakarta, Jumat.
Menanggapi kekhawatiran bahwa kenaikan free float berpotensi membuat pasar sepi, Airlangga menegaskan hal itu tidak akan terjadi. Menurutnya, justru dengan free float yang lebih besar, pasar akan semakin menarik bagi investor dan likuiditas pun meningkat.
Selain kebijakan free float, pemerintah juga mendorong percepatan demutualisasi BEI yang ditargetkan mulai berproses pada tahun ini. Demutualisasi ini merupakan transformasi struktural untuk mengurangi potensi benturan kepentingan antara pengurus bursa dan anggota bursa, sekaligus mencegah praktik pasar yang tidak sehat.
Airlangga menyebut langkah tersebut juga membuka peluang masuknya investasi baru, termasuk dari Danantara dan berbagai agensi lainnya. Tahapan demutualisasi sendiri telah diatur dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), dan ke depan dapat dilanjutkan dengan rencana BEI untuk melantai di pasar modal.
Tak berhenti di situ, pemerintah juga berencana menaikkan batas investasi dana pensiun dan asuransi di pasar modal dari sebelumnya 8 persen menjadi 20 persen. Menurut Airlangga, seluruh kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto, yang terus memantau perkembangan pasar modal, termasuk dampak kebijakan MSCI dan penilaian lembaga pemeringkat lainnya.
Pemerintah menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, didukung koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang berjalan baik. Hal ini mulai tercermin dari pergerakan pasar saham yang kembali membaik.
Airlangga menyinggung rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali bergerak di zona hijau setelah sempat tertekan pascapengumuman kebijakan MSCI. Dalam konteks ini, pemerintah menegaskan komitmennya menjaga stabilitas dan kredibilitas nasional, termasuk kredibilitas pasar modal.
Indonesia juga berkomitmen mengadopsi standar internasional demi mempertahankan status sebagai pasar emerging market, sekaligus memperkuat pasar modal agar lebih adil, kompetitif, dan transparan.
“Karena ini merupakan sinyal. Sekali lagi saya katakan, sinyal kepada global market, faktor fundamental ekonomi kita tetap kuat dan pemerintah tidak khawatir terkait dengan kondisi makroekonomi maupun kondisi fiskal kita,” tegas Airlangga.
Sebelumnya, pada Kamis (19/1), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan penyesuaian aturan batas free float saham menjadi 15 persen yang akan segera diberlakukan. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar memastikan kebijakan ini diterapkan dengan prinsip transparansi yang jelas bagi emiten, termasuk penetapan jangka waktu penyesuaian. Peraturan terkait demutualisasi BEI ditargetkan terbit pada kuartal I 2026.
Demutualisasi sendiri merupakan proses perubahan status BEI dari organisasi berbasis keanggotaan atau Self-Regulatory Organization (SRO) yang dimiliki perusahaan sekuritas anggota bursa, menjadi entitas berbentuk perusahaan yang dapat dimiliki publik atau pihak lain.
Di tengah dinamika pasar, Direktur Utama BEI Iman Rachman pada Jumat pagi mengumumkan pengunduran dirinya sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi pasar modal Indonesia belakangan ini. BEI pun akan segera menunjuk Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama untuk memastikan operasional harian tetap berjalan.
Pada Jumat pagi, IHSG tercatat menguat 88,88 poin atau 1,08 persen ke level 8.321,08. Sementara itu, indeks LQ45 naik 11,59 poin atau 1,43 persen ke posisi 824,60, menandai fase krusial pemulihan pasar modal Indonesia.
Baca juga: IHSG Menguat di Tengah Tekanan Pasar Modal
Baca juga: Banggar DPR Minta OJK Terbuka Terima Masukan MSCI
Sumber: ANTARA