Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah di awal perdagangan Jumat di Jakarta tercatat melemah 23 poin atau 0,14 persen menjadi Rp16.865 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp16.842 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan pelemahan rupiah terjadi karena Moody’s mengubah outlook Indonesia menjadi negatif meski peringkat Baa2 tetap dipertahankan.
“Moody’s mempertahankan peringkat Baa2, mencerminkan melemahnya prediktabilitas kebijakan, meningkatnya isu tata kelola, dan ketidakpastian yang dapat menekan kepercayaan investor,” ujar Josua kepada ANTARA di Jakarta.
Sebelumnya, lembaga pemeringkat Moody’s mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade, namun outlooknya diganti dari stabil menjadi negatif. Risiko utama datang dari ketergantungan yang makin tinggi terhadap belanja pemerintah serta ketidakpastian arah kebijakan fiskal.
Meski begitu, pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen, defisit fiskal yang tetap di bawah 3 persen PDB, dan rasio utang yang rendah menjadi alasan peringkat tetap aman.
Sentimen lain muncul dari data pasar tenaga kerja AS, di mana Pemutusan Hubungan Kerja pada Januari 2026 melonjak 117,8 persen secara tahunan dari sebelumnya turun 8,3 persen.
Data Lowongan Kerja JOLT untuk Desember 2025 menurun menjadi 6,54 juta dari 6,93 juta. Sementara Initial Jobless Claims untuk pekan yang berakhir 31 Januari naik tak terduga menjadi 231 ribu dari 209 ribu, melebihi ekspektasi pasar 212 ribu.
Indikator ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS mulai melonggar, memicu spekulasi penurunan suku bunga lebih cepat oleh The Fed, sekaligus menekan indeks dolar AS.
Dengan kondisi ini, rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.825 sampai Rp16.950 per dolar AS.
Sumber: ANTARA