Dokter: Tiga Kandungan Vape Bisa Picu Ketergantungan hingga Risiko Kanker

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Dewan Eksekutif Perhimpunan Dokter Paru Indonesia atau PDPI Prof Agus Dwi Susanto menyoroti bahaya rokok elektronik atau vape yang disebut memiliki tiga komponen utama yang dapat berdampak pada kesehatan, terutama di kalangan remaja.

Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu mengatakan komponen pertama adalah nikotin yang bersifat adiktif dan bisa menyebabkan ketergantungan.

“Sekitar 79,5 persen pengguna vape mengalami adiksi karena kandungan nikotin,” katanya saat dihubungi pada, Senin.

Ia menambahkan, ketergantungan nikotin juga dapat membuat sebagian pengguna beralih menjadi perokok ganda atau dual user.

“Sekitar 40 sampai 50 persen pengguna menjadi dual user, menggunakan vape dan rokok konvensional,” ujarnya.

Komponen kedua adalah zat karsinogen atau pemicu kanker yang ditemukan dalam cairan vape seperti formaldehida dan asetaldehida. Meski tidak mengandung tar seperti rokok biasa, menurutnya kandungan kimia dalam vape tetap memiliki potensi risiko serius bagi tubuh.

Agus menjelaskan bahwa bukti pada manusia memang masih berkembang karena penggunaan vape tergolong baru, tetapi penelitian laboratorium sudah menunjukkan adanya potensi bahaya tersebut.

Komponen ketiga adalah zat toksik yang dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan dan sistem pembuluh darah. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko penyakit seperti infeksi saluran napas, pneumonia, asma, hingga penyakit paru kronik.

Dalam praktik klinis, ia mengaku mulai menemukan sejumlah kasus gangguan paru pada pengguna vape, termasuk pneumonia, asma, hingga pneumotoraks atau kondisi paru paru bocor.

Ia juga menyinggung adanya risiko cedera paru akut akibat vape yang dikenal sebagai EVALI, yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat hingga memerlukan perawatan intensif.

Selain dampak pada paru paru, paparan zat dari vape juga disebut berpotensi memengaruhi pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta stroke dalam jangka panjang.

Agus menegaskan penggunaan vape pada remaja perlu menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi perkembangan otak dan fungsi kognitif.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka