BPS: Angka Kematian Bayi di Jakarta Turun

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025 menunjukkan angka kematian bayi atau infant mortality rate (IMR) di Jakarta menurun menjadi 9,26 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini lebih rendah dibandingkan hasil Sensus Penduduk 2010 yang tercatat sebesar 10,38 per 1.000 kelahiran hidup.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, Kadarmanto, menyebut penurunan ini mencerminkan meningkatnya peluang bayi untuk bertahan hidup pada tahun pertama kehidupannya.

“Dibandingkan dengan Sensus Penduduk tahun 2010, IMR Supas 2025 turun hampir setengahnya, mencerminkan semakin baiknya peluang bayi hidup di tahun pertama kehidupan,” kata Kadarmanto dalam siniar yang dipantau di Jakarta, Rabu.

Perbedaan antarwilayah

BPS mencatat variasi IMR di tingkat kota/kabupaten di Jakarta:

- Jakarta Pusat: 8,74 (terendah)
- Jakarta Selatan: 9,13
- Jakarta Barat: 9,63
- Jakarta Utara: 9,73
- Jakarta Timur: 9,87
- Kepulauan Seribu: 10,63 (tertinggi)

Secara keseluruhan, angka IMR Jakarta juga lebih rendah dibanding rata-rata nasional yang mencapai 14,12 per 1.000 kelahiran hidup.

Tingkat kelahiran di bawah penggantian populasi

Selain itu, Survei Supas 2025 juga mencatat total fertility rate (TFR) Jakarta sebesar 1,79, berada di bawah tingkat penggantian populasi atau replacement level sebesar 2,10.

Artinya, rata-rata perempuan di Jakarta tidak cukup melahirkan anak untuk mempertahankan jumlah populasi tanpa faktor migrasi.

“Hal ini terutama didorong oleh penurunan kelahiran pada perempuan usia 15–19 dan 20–24 tahun,” ujar Kadarmanto.

Perbandingan wilayah

TFR di kabupaten/kota Jakarta:

- Jakarta Pusat: 1,59 (terendah)
- Jakarta Selatan: 1,71
- Jakarta Timur: 1,81
- Jakarta Barat: 1,82
- Jakarta Utara: 1,91
- Kepulauan Seribu: 2,14 (di atas replacement level)

BPS menyebut disparitas antarwilayah relatif kecil, dengan sebagian besar wilayah daratan Jakarta berada di bawah angka penggantian populasi.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka