London (KABARIN) - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer tengah menghadapi tekanan besar dari internal pemerintahannya sendiri setelah sejumlah menteri senior disebut meminta kejelasan soal masa depan kepemimpinannya.
Laporan BBC pada Senin malam (11/5) menyebut beberapa anggota kabinet, termasuk Menteri Dalam Negeri Shabana Mahmood, mendesak Starmer untuk menetapkan jadwal pengunduran diri.
Namun, di dalam kabinet sendiri muncul perbedaan pandangan. Mahmood disebut berada di kelompok minoritas dalam isu tersebut.
Tekanan terhadap Starmer tidak hanya datang dari kabinet. Lebih dari 70 anggota parlemen dari Partai Buruh juga dilaporkan meminta agar ia mundur atau setidaknya menetapkan jadwal pengunduran diri. Selain itu, sedikitnya empat Sekretaris Pribadi Parlemen dikabarkan telah mengundurkan diri.
Media Sky News melaporkan bahwa Starmer tengah mempertimbangkan sejumlah opsi politik menjelang rapat kabinet pada Selasa pagi waktu setempat.
Situasi ini muncul setelah Partai Buruh mengalami hasil buruk dalam pemilu lokal. Partai tersebut kehilangan hampir 1.500 kursi dewan serta kehilangan kendali di sekitar 40 dewan lokal, termasuk beberapa wilayah yang selama ini menjadi basis kuat mereka.
Meski tekanan meningkat, Starmer menegaskan dirinya tidak akan mundur. Dalam pernyataannya, ia mengakui hasil pemilu tersebut sangat mengecewakan, namun menolak untuk menyerah.
Ketika ditanya soal kemungkinan menghadapi tantangan kepemimpinan dari dalam partainya, ia menjawab tegas “ya” dan menambahkan, “saya tidak akan menyerah”.
Sumber: Xinhua