Jakarta (KABARIN) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa sore ditutup melemah 46,72 poin atau 0,68 persen ke level 6.858,9.
Sementara, indeks LQ45 justru menguat tipis 0,18 persen ke posisi 669,84.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa, menilai pelemahan rupiah yang melampaui Rp17.500 per dolar AS, serta antisipasi pasar terhadap potensi penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI menjadi sentimen negatif utama bagi pergerakan IHSG.
"Pelemahan rupiah pada level terendah baru, serta antisipasi penurunan bobot oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International) menjadi faktor negatif yang mendorong pelemahan IHSG," ujar Ratna.
Selain itu, kenaikan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun sebesar 10 basis poin ke level 6,72 persen menjadi level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Kenaikan tersebut dipicu oleh lonjakan harga minyak yang menimbulkan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit APBN, sehingga tekanan terhadap rupiah semakin meningkat hingga menyentuh rekor terendah di Rp17.525 per dolar AS.
Ratna menjelaskan, kenaikan yield surat utang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara lain.
Di Amerika Serikat (AS), yield obligasi pemerintah meningkat menjelang rilis data inflasi. Sementara di Inggris, yield obligasi pemerintah naik ke level tertinggi sejak 2008 di tengah tekanan politik terhadap Perdana Menteri Inggris.
Dari sisi sektoral, sektor kesehatan mencatatkan pelemahan terdalam sebesar 3,52 persen, sedangkan sektor barang baku atau basic materials menjadi sektor dengan penguatan terbesar sebesar 1,85 persen.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan berpotensi menguji area support di kisaran 6.700–6.750. Namun jika mampu bertahan di atas level tersebut, indeks berpeluang mengalami technical rebound menuju level 6.900.
Sepanjang perdagangan, tercatat 217 saham menguat, 486 saham melemah, dan 256 saham stagnan.
Kapitalisasi pasar BEI berada di level Rp12.146 triliun, dengan volume transaksi mencapai 31,08 miliar saham, frekuensi 2,51 juta transaksi, serta nilai transaksi sebesar Rp16,27 triliun.
Dari sisi sektor, penguatan terjadi pada energi (0,01 persen), keuangan (0,31 persen), barang baku (1,85 persen), serta transportasi dan logistik (1,59 persen). Sementara itu, sektor lainnya seperti kesehatan, industri, infrastruktur, dan barang konsumsi tercatat melemah dengan tekanan paling dalam pada sektor kesehatan sebesar 3,52 persen.
Sumber: ANTARA