Pasar masih mencermati respons pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah, termasuk efektivitas intervensi di pasar valas dan obligasi
Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah pada akhir perdagangan hari ini tercatat menguat 52 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.654 per dolar AS, setelah sebelumnya berada di posisi Rp17.706 per dolar AS.
Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Tiffani Safinia, menyebut penguatan rupiah tersebut dipengaruhi oleh respons kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
“Pasar masih mencermati respons pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah, termasuk efektivitas intervensi di pasar valas dan obligasi,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026 memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen.
Suku bunga deposit facility turut dinaikkan 50 bps menjadi 4,25 persen, sementara suku bunga lending facility juga naik 50 bps menjadi 6 persen.
Kebijakan ini ditempuh sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah gejolak global akibat konflik di Timur Tengah, sekaligus langkah antisipatif menjaga inflasi 2026–2027 agar tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Bagi BI, keputusan tersebut juga sejalan dengan arah kebijakan moneter 2026 yang menitikberatkan pada stabilitas (pro-stability) untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonomi nasional dari tekanan global.
Sentimen pasar juga dipengaruhi pidato Presiden Prabowo terkait arah kebijakan ekonomi dan fiskal yang dinilai memberikan sinyal positif terhadap kepercayaan investor.
Di sisi lain, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta kekhawatiran terhadap arus modal asing masih menjadi faktor penekan rupiah dalam jangka pendek.
Dari sisi global, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati (wait and see) terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat, termasuk risalah Federal Open Market Committee (FOMC) serta data ekonomi terbaru. Kondisi ini mendorong aliran dana menuju aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS, sehingga memberi tekanan tambahan pada rupiah.
“Selain itu, tensi geopolitik global dan penguatan dolar AS turut meningkatkan kehati-hatian investor di pasar keuangan,” ujar Tiffani.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan ke level Rp17.685 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.719 per dolar AS.
Sumber: ANTARA