PBB Peringatkan Bahaya Eskalasi Perang Rusia-Ukraina

waktu baca 2 menit

PBB (KABARIN) - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Kamis (28/5) menyerukan deeskalasi segera dan berkelanjutan terkait konflik Ukraina.

Saat berbicara dalam sebuah pertemuan Dewan Keamanan tentang Ukraina menyusul serangan berskala besar Rusia di berbagai wilayah Ukraina selama akhir pekan, Guterres mengatakan arah konflik tersebut berisiko menjadi tidak terkendali.

Guterres memperingatkan risiko kesalahan perhitungan dan eskalasi dengan konsekuensi yang tidak diketahui dan tidak diinginkan. "Mari kita bicara terus terang. Jalur yang ditempuh saat ini tidak berkelanjutan. Arah ini harus diubah. Spiral kematian ini harus dihentikan," kata Guterres.

Sejak Februari 2022 ketika konflik pecah, lebih dari 15.000 warga sipil tewas di Ukraina, termasuk hampir 800 anak-anak. Laporan dari Rusia menunjukkan jumlah korban sipil yang terus meningkat, termasuk anak-anak, ujarnya.

Garis depan pertempuran praktis lumpuh dengan serangan drone dalam jumlah besar menyebabkan banyak korban. Selain itu, infrastruktur sipil dihancurkan dalam skala besar, terutama infrastruktur energi, ujar Guterres.

"Apa yang dibutuhkan saat ini adalah deeskalasi, segera dan berkelanjutan. Apa yang dibutuhkan saat ini adalah gencatan senjata penuh dan tanpa syarat. Apa yang dibutuhkan saat ini adalah lebih banyak diplomasi. Apa yang dibutuhkan adalah menciptakan kondisi untuk perdamaian yang adil, langgeng, dan komprehensif, sesuai dengan Piagam PBB, hukum internasional, dan resolusi PBB. Pilihannya jelas. Tanggung jawabnya jelas. Waktu untuk perdamaian adalah sekarang," katanya.

Kementerian Pertahanan Rusia pada Minggu (24/5) mengatakan bahwa militer Rusia melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone terhadap target-target militer Ukraina sebagai balasan atas serangan Ukraina terhadap target sipil di wilayah Rusia.

Baca juga: PBB Khawatir Konflik Ukraina Makin Tak Terkendali

Baca juga: Rusia Sebut Situasi HAM di Ukraina Makin Merosot

Sumber: Xinhua

Bagikan

Mungkin Kamu Suka