Jakarta (KABARIN) - Penanganan jerawat perlu dilakukan sesuai dengan tingkat keparahan dan kondisi kulit karena penyebab munculnya jerawat melibatkan berbagai faktor, mulai dari produksi minyak berlebih, penyumbatan pori-pori, pertumbuhan bakteri hingga peradangan pada kulit.
"Seringkali masalah jerawat itu kambuh, hilang dan timbul kembali," kata kata dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika dr. Deasy Lius, Sp.D.V.E dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.
Menurut founder sekaligus Head Doctor Bmderma itu jerawat merupakan salah satu masalah kulit yang paling umum dijumpai, terutama pada remaja dan dewasa muda. Namun, kondisi tersebut juga dapat terjadi pada usia dewasa akibat perubahan hormon, stres, pola hidup, penggunaan produk perawatan kulit yang kurang sesuai, maupun faktor genetik.
Ia menjelaskan bahwa penanganan jerawat selama ini umumnya dilakukan melalui kombinasi penggunaan produk perawatan kulit, obat oles, antibiotik, hingga obat oral yang diberikan berdasarkan tingkat keparahan jerawat dan hasil pemeriksaan dokter.
Pada kasus jerawat sedang hingga berat, penggunaan obat oral tertentu kerap menjadi salah satu pilihan terapi. Namun, menurut Deasy, penggunaan obat tersebut harus berada dalam pengawasan dokter karena berpotensi menimbulkan efek samping dan memerlukan pemantauan berkala.
"Sebagai dokter kami tentu mempertimbangkan manfaat dan risiko dari setiap terapi yang diberikan," ujarnya.
Selain terapi berbasis obat, perkembangan teknologi di bidang dermatologi juga menghadirkan berbagai alternatif penanganan jerawat melalui prosedur berbasis energi, termasuk teknologi laser Aviclear yakni perawatan menggunakan teknologi laser dengan panjang gelombang 1.726 nanometer yang dirancang untuk menargetkan kelenjar sebasea atau penghasil minyak pada kulit tanpa merusak permukaan kulit.
Deasy menjelaskan teknologi laser terkini dapat menargetkan kelenjar sebasea atau kelenjar penghasil minyak sehingga produksi sebum menjadi lebih terkontrol. Dengan berkurangnya produksi minyak berlebih, risiko terbentuknya jerawat baru juga dapat ditekan.
Menurut dia, pemilihan terapi perlu mempertimbangkan berbagai aspek, seperti usia, jenis kulit, tingkat sensitivitas kulit, serta tingkat keparahan jerawat. Pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi individu dinilai penting untuk memperoleh hasil yang optimal sekaligus meminimalkan risiko efek samping.
Selain menjalani terapi medis, masyarakat juga dianjurkan menjaga kebersihan kulit wajah, menggunakan produk perawatan yang sesuai, menghindari kebiasaan memencet jerawat, serta menerapkan pola hidup sehat untuk membantu mengendalikan kondisi kulit.
Deasy mengatakan tujuan penanganan jerawat tidak hanya mengatasi lesi yang sedang aktif, tetapi juga mencegah kekambuhan dan meminimalkan terbentuknya bekas jerawat yang dapat memengaruhi kualitas hidup.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit apabila mengalami jerawat yang menetap atau semakin berat agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat sesuai kondisi kulit masing-masing.
Sumber: ANTARA