Jakarta (KABARIN) - Direktur RSUD Tebet, Juliette Pieter, mengingatkan para ibu hamil agar rutin mengonsumsi vitamin serta menjaga kondisi tubuh selama kehamilan guna membantu menekan risiko bayi lahir dengan bibir sumbing.
"Bibir sumbing bukan karena faktor keturunan semata, tetapi terjadi karena proses pembentukan embrio yang tidak menyatu dengan sempurna. Bisa juga karena ibu mengalami kekurangan zat tertentu selama kehamilan," kata Juliette kepada wartawan di Jakarta, Rabu.
Ia menyarankan ibu hamil untuk lebih rutin memeriksakan kandungannya ke posyandu maupun puskesmas. Dengan pemeriksaan berkala, ibu hamil dapat memperoleh pemantauan kesehatan sekaligus mendapatkan suplemen yang diperlukan selama masa kehamilan.
"Periksa ke posyandu atau puskesmas lebih rajin karena ibu hamil akan mendapatkan vitamin seperti asam folat dan tablet penambah darah," ujarnya.
Selain memenuhi kebutuhan nutrisi, Juliette juga menekankan pentingnya menjaga kondisi fisik agar tidak mengalami kelelahan berlebihan selama kehamilan.
Menurutnya, langkah pencegahan sejak dini sangat penting karena bibir sumbing dapat berdampak pada kemampuan anak dalam makan dan berbicara, serta memengaruhi kondisi psikologis dan sosialnya ketika tumbuh besar.
Sementara itu, salah satu orang tua pasien operasi bibir sumbing, Mimi, mengaku bersyukur karena anaknya mendapat kesempatan menjalani tindakan operasi.
Ia menjelaskan putranya, Faris, yang kini berusia satu tahun satu bulan, sedang menjalani operasi tahap kedua setelah sebelumnya menjalani operasi bibir.
Mimi mengetahui kondisi bibir sumbing yang dialami anaknya saat melakukan pemeriksaan USG ketika usia kandungan memasuki 24 minggu.
"Sempat sedih dan terpukul, tetapi keluarga terus memberikan dukungan," katanya.
Menurut dia, program operasi gratis sangat membantu karena proses penanganannya berlangsung lebih cepat dibandingkan melalui jalur reguler.
"Kalau melalui program ini, setelah screening dan dinyatakan lolos bisa langsung operasi. Jadi lebih cepat," ucapnya.
Ia berharap program bantuan operasi bibir sumbing dapat terus diperluas sehingga semakin banyak anak memperoleh akses pengobatan dan kesempatan untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus bibir sumbing dan celah langit-langit di Indonesia mencapai sekitar 7.500 kasus setiap tahun.
Sumber: ANTARA