Angin Duduk Bisa Jadi Sinyal Gangguan pada Otot Jantung

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FASCC, menjelaskan bahwa angin duduk atau dalam istilah medis angina pektoris merupakan kondisi yang dapat menjadi sinyal adanya gangguan pada otot jantung.

Ia menjelaskan, angina pektoris terjadi ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup akibat adanya hambatan pada pembuluh darah.

“Kalau pembuluh darahnya terhambat, yang terjadi berarti ada otot jantung yang enggak dapat pasokan oksigen secara utuh. Kalau kekurangan pasokan, maka otot itu akan jerit, itulah makanya terjadi suatu angina, jadinya rasa nyeri,” kata Febtusia dalam diskusi di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, kondisi tersebut biasanya ditandai dengan nyeri dada seperti tertekan beban berat dan rasa tidak nyaman di area dada. Istilah angina sendiri berasal dari bahasa Yunani Kuno yang berarti mencekik atau menyempit, sedangkan “pektoris” merujuk pada dada.

Sementara itu, istilah “angin duduk” diduga muncul dari kebiasaan penderita angina yang cenderung memilih posisi duduk untuk meredakan keluhan dan membantu pernapasan.

“Kalau orang terkena angina ini, itu biasanya dia susah untuk tiduran santai ataupun susah untuk nafas dengan nyaman. Dia berusaha untuk duduk, memperbaiki posisi, makanya mungkin inilah muncul istilah angin duduk itu,” tutur dia.

Febtusia juga menjelaskan sejumlah faktor risiko yang dapat memicu angina pektoris, di antaranya tingginya kadar kolesterol jahat (LDL), hipertensi, diabetes, serta kebiasaan merokok.

Ia menggambarkan pembuluh darah seperti struktur dinding yang bisa mengalami kerusakan kecil, sehingga memudahkan penumpukan lemak dan membentuk sumbatan.

“Tekanan darah yang bisa dikompensasi tubuh dengan baik itu 130/80, kalau lebih tinggi dari itu mulai nih ada masalah dinding pembuluh darahnya disfungsi dari sel-sel yang membentuk, di situ cuil dindingnya maka si kolesterol jahat ‘ada tempat buat nongkrong’. Mulai terbentuk namanya fatty streak timbunan lemak,” ujar dia.

Selain itu, diabetes juga dapat mempercepat kerusakan arteri, sementara merokok dapat mengganggu kemampuan darah dalam membawa oksigen karena terikat karbon monoksida dan nikotin.

“Kalau dia merokok, sel darah merah ini enggak ngangkut oksigen tapi yang diangkut karbon monoksida dibajak nikotin. Makanya sel-sel itu yang harusnya dia beregenerasi enggak jadi regenerasinya terganggu,” imbuh dia.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka