Dokter Kulit Ungkap Perawatan Sederhana Atasi Jerawat Pada Remaja Saat Pubertas

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Memasuki masa pubertas, remaja mengalami perubahan hormon yang dapat meningkatkan produksi minyak berlebih di kulit dan memicu masalah seperti jerawat serta kulit berminyak.

Mengutip Channel News Asia, Kamis (11/6), dokter kulit Dr. Stephanie Ho menjelaskan bahwa transisi dari masa kanak-kanak ke remaja membuat kelenjar minyak bekerja lebih aktif. Kondisi ini dapat menyumbat pori-pori dan memicu komedo hitam, komedo putih, hingga jerawat. Campuran sebum, sel kulit mati, dan bakteri kemudian dapat menimbulkan peradangan pada kulit.

“Jerawat memengaruhi 90 hingga 96 persen remaja sampai taraf tertentu. Anak perempuan biasanya mengalami perubahan ini lebih awal, sekitar usia 11 hingga 13 tahun, sedangkan anak laki-laki cenderung mengembangkannya lebih lambat, dari usia 13 hingga 14 tahun,” kata Dr. Ho.

Ia menyarankan rutinitas perawatan kulit sederhana yang terdiri dari pembersih lembut, pelembap ringan, serta tabir surya spektrum luas dengan SPF 50 atau lebih saat beraktivitas di luar ruangan.

Dr. Ho juga merekomendasikan beberapa bahan aktif yang dapat membantu mengatasi jerawat, seperti niasinamida untuk mengurangi peradangan dan produksi minyak, asam azelaik untuk membersihkan pori-pori serta mengurangi bakteri, benzoil peroksida untuk membunuh bakteri penyebab jerawat, dan asam salisilat untuk membantu pengelupasan sel kulit mati.

Meski efektif, bahan-bahan tersebut perlu digunakan secara bertahap untuk melihat toleransi kulit. Jika kondisi jerawat tidak membaik atau semakin parah, ia menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter kulit.

Ia juga mengingatkan agar tidak mencuci wajah secara berlebihan. Idealnya, wajah cukup dibersihkan maksimal dua kali sehari, lalu dilanjutkan dengan pelembap agar lapisan pelindung kulit tetap terjaga.

Penggunaan bahan seperti AHA, BHA, dan retinoid juga perlu dibatasi karena dapat menyebabkan iritasi jika digunakan berlebihan. Kebiasaan menyentuh atau memencet jerawat pun sebaiknya dihindari karena dapat memperburuk peradangan.

Selain itu, faktor gaya hidup seperti pola makan tinggi gula, produk susu, dan makanan dengan indeks glikemik tinggi juga dapat berkontribusi terhadap jerawat. Kurang tidur dan stres tinggi turut memperburuk kondisi kulit karena memengaruhi hormon dan sistem imun.

Dr. Ho menekankan bahwa meskipun jerawat adalah bagian normal dari masa pertumbuhan, kebiasaan perawatan kulit yang sehat sejak dini dapat membantu remaja memiliki kulit yang lebih sehat dan percaya diri.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka