Tanda Tubuh dan Pikiran Membutuhkan Istirahat Mental di Tengah Rutinitas Padat

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Hidup di era yang menuntut aktivitas tinggi dari pagi hingga malam membuat tubuh mudah terkuras, sementara sistem saraf cenderung terus berada dalam mode siaga.

Menurut Kepala Global Kesehatan Mental dan Kesejahteraan di Roundglass Living, Prakriti Poddar, kelelahan tidak hanya bisa dilihat dari kebutuhan tidur, tetapi juga dari kondisi mental yang ikut menurun.

Berikut sejumlah tanda tubuh dan pikiran yang menunjukkan perlunya istirahat mental:

1. Bangun tetap lelah meski sudah tidur cukup

Salah satu tanda paling umum kelelahan mental adalah kondisi ketika seseorang tetap merasa lelah saat bangun tidur, meski sudah beristirahat semalaman.

Hal ini terjadi karena pikiran tidak benar-benar “mati” saat tubuh tidur. Pola “masuk terakhir, keluar pertama” membuat pikiran terakhir sebelum tidur terus berulang di alam bawah sadar, sehingga kualitas tidur terganggu.

Pemulihan yang sebenarnya, menurut Prakriti, terjadi ketika seseorang mengurangi tekanan untuk selalu sempurna dan mulai fokus pada hal-hal yang benar-benar dibutuhkan tubuh dan pikiran saat ini.

2. Aktivitas ringan terasa lebih berat secara emosional

Ketika kapasitas mental menurun, tugas-tugas sederhana pun bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya.

“Anda mungkin menyadari diri anda menjadi sangat mudah tersinggung atau tidak sabar,” kata Prakirit.

Dalam kondisi ini, beban emosional membuat hal kecil terasa melelahkan. Ini bukan soal kemalasan, melainkan sinyal bahwa energi psikologis seseorang sedang terkuras.

3. Sulit fokus pada hal sederhana

Kelelahan mental juga ditandai dengan gangguan konsentrasi, seperti mudah lupa, sulit fokus, hingga merasa pikiran tidak jernih sepanjang hari.

Prakriti menyebut kondisi ini sebagai bentuk kelelahan kognitif atau “brain fog”. Paparan informasi yang terus-menerus, multitasking, dan aktivitas digital yang padat membuat otak jarang mendapatkan ruang untuk beristirahat.

Ia menekankan bahwa otak juga membutuhkan pemulihan seperti halnya otot. Aktivitas seperti mindfulness, pernapasan dalam, menulis jurnal, yoga, atau sekadar menjauh dari layar dapat membantu menenangkan pikiran.

4. Munculnya tanda stres pada tubuh

Stres tidak hanya menyerang pikiran, tetapi juga dapat muncul dalam bentuk fisik seperti sakit kepala, ketegangan otot, gangguan pencernaan, rahang mengeras, hingga napas yang terasa pendek.

Gejala ini sering diabaikan karena dianggap hal biasa dalam kehidupan modern. Padahal, jika dibiarkan, tubuh bisa terus berada dalam kondisi siaga tinggi dalam jangka panjang.

Prakriti menegaskan pentingnya pendekatan kesehatan holistik yang menjaga keseimbangan antara pikiran dan tubuh.

5. Merasa kehilangan rasa bahagia

Pada tahap ini, seseorang masih menjalani rutinitas sehari-hari, tetapi tidak lagi merasakan keterhubungan emosional, semangat, atau kegembiraan seperti sebelumnya.

Sumber: Hindustan Times

Bagikan

Mungkin Kamu Suka