Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa sore, melemah 56 poin atau 0,31 persen menjadi Rp17.907 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.851 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah disebabkan ketidakpastian pembicaraan perdamaian antara Iran dengan AS.
“Ketidakpastian mengenai apakah kedua pihak akan bertemu menyoroti kerapuhan kesepakatan 17 Juni untuk menghentikan pertempuran yang telah mengganggu aliran minyak global melalui Selat Hormuz,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
Pasar tengah mengamati hasil potensi pembicaraan AS-Iran di Qatar di tengah serangan rudal akhir pekan dari kedua belah pihak, sehingga gencatan senjata tak berlanjut. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan takkan ada pertemuan negosiasi di tingkat manapun dengan pihak Amerika dalam beberapa hari mendatang.
Sentimen lain berasal dari keyakinan yang semakin besar bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali tahun ini. Hal ini terjadi setelah bank sentral menunjukkan sikap hawkish selama pertemuan Juni seiring beberapa pembuat kebijakan terlihat menyerukan kenaikan suku bunga.
Perhatian sekarang beralih ke laporan pasar tenaga kerja AS bulan Juni, dengan rilis Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis pada Kamis (2/7).
“Para analis memperkirakan ekonomi AS akan menambah 114 ribu lapangan kerja, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3 persen, data yang dapat mempengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan The Fed.
Melihat sentimen dalam negeri, pasar disebut menunggu data neraca perdagangan di bulan Mei. Surplus perdagangan yang menyusut dinilai akan memberikan tekanan terhadap defisit transaksi berjalan/current account deficit (CAD) pada tahun ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia secara kumulatif sampai April hanya 5,64 miliar dolar AS. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode Januari-April 2025 yang masih berada di atas 10 miliar dolar AS.
“Kondisi tersebut berpotensi memperlemah ketahanan eksternal dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi oleh masuknya aliran modal asing,” ujar Ibrahim.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.899 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.856 per dolar AS.
Baca juga: IHSG Sesi I Ditutup Anjlok 2,42 Persen, Investor Masih Minim Keberanian Ambil Risiko
Baca juga: Harga Emas Antam Turun Lagi Rp15.000, Kini Jadi Rp2,63 Juta per Gram
Sumber: ANTARA