Menguatnya pasar bursa regional Asia turut menopang IHSG. Pasar menantikan perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
Jakarta (KABARIN) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu ditutup menguat mengikuti pergerakan positif mayoritas bursa saham Asia.
IHSG ditutup naik 51,93 poin atau 0,92 persen ke level 5.695,12. Sementara itu, indeks LQ45 juga menguat 3,64 poin atau 0,66 persen ke posisi 556,75.
“Menguatnya pasar bursa regional Asia turut menopang IHSG. Pasar menantikan perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Iran,” ujar Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus alias Nico di Jakarta, Rabu.
Dari sisi global, pelaku pasar masih mencermati perkembangan perundingan AS–Iran di Doha, Qatar, meskipun mediator menyebut belum ada peluang terjadinya terobosan besar. Utusan Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah tiba di Doha, namun belum ada pertemuan langsung antara kedua pihak.
Di tengah proses tersebut, pasar tetap menunggu arah lanjutan pembicaraan damai, termasuk isu strategis seperti pengendalian jalur maritim di kawasan tersebut.
Sentimen lain datang dari ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar memperkirakan adanya potensi kenaikan suku bunga The Fed menjelang rilis data tenaga kerja AS pada Kamis (2/7).
Dari dalam negeri, penguatan IHSG terjadi di tengah sejumlah data ekonomi yang beragam, mulai dari kontraksi PMI manufaktur hingga defisit neraca perdagangan.
PMI manufaktur Indonesia tercatat turun ke level 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei 2026, menjadi level terendah sejak Juni 2025.
Sementara itu, BPS melaporkan inflasi Juni 2026 sebesar 0,44 persen secara bulanan, dengan inflasi tahunan mencapai 3,34 persen. Tekanan inflasi dipengaruhi oleh faktor musiman, kenaikan bahan baku, serta harga BBM.
BPS juga mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 defisit 1,61 miliar dolar AS, yang menjadi defisit pertama dalam enam tahun terakhir.
“Hal ini menunjukkan belum berdampaknya upaya menaikkan suku bunga acuannya Bank Indonesia (BI) dalam mengendalikan inflasi. Kondisi ini tentunya mendorong BI aktif dalam menjaga nilai rupiah, mengendalikan inflasi,” ujar Nico.
Dari sisi sektoral, delapan sektor tercatat menguat, dipimpin sektor barang baku, energi, dan infrastruktur. Sementara itu, sektor transportasi dan logistik menjadi yang paling tertekan.
Frekuensi perdagangan tercatat 1.542.000 kali dengan volume 17,06 miliar saham dan nilai transaksi Rp10,26 triliun. Sebanyak 391 saham menguat, 263 melemah, dan 305 stagnan.
Bursa saham Asia sendiri ditutup variatif, dengan Nikkei, Shanghai, dan Shenzhen menguat, sementara Strait Times melemah tipis.
Sumber: ANTARA