Health

Dokter: Kerontokan Rambut Perlu Ditangani Sejak Dini untuk Cegah Kebotakan

Jakarta (KABARIN) - Kerontokan rambut tidak hanya berkaitan dengan masalah penampilan, tetapi juga dapat menjadi kondisi medis yang muncul sejak usia muda. Penanganan yang terlambat berisiko memperparah kondisi dan mengurangi peluang rambut untuk tumbuh kembali.

"Folikel yang masih aktif jauh lebih mudah dirangsang untuk tumbuh kembali. Menunda penanganan berarti kehilangan kesempatan itu," kata dokter spesialis dermatologi dan venereologi dr. Elisabeth Ryan, Sp.DVE, dalam acara Grand Opening Nallura Clinic di Jakarta Selatan.

Menurut Elisabeth, penyebab kerontokan rambut sangat beragam. Faktor genetik dan hormon menjadi penyebab terbesar dengan kontribusi sekitar 35 persen dari total kasus. Faktor lainnya meliputi stres sebesar 24 persen, kekurangan nutrisi 15 persen, infeksi kulit kepala 14 persen, efek samping obat atau penyakit 7 persen, serta kondisi pascamelahirkan dan sindrom ovarium polikistik (PCOS) sebesar 5 persen.

Ia menjelaskan bahwa kerontokan rambut dalam jumlah tertentu masih tergolong normal. Namun, masyarakat perlu waspada jika jumlah rambut yang rontok melebihi batas wajar.

"Yang dikatakan normal rambut yang rontok adalah sebanyak 50-100 helai. Kalau lebih dari 100 helai dalam sehari, itu dikatakan tidak normal," kata dr. Elisabeth.

Secara klinis, pola kerontokan rambut pada pria dan wanita memiliki perbedaan. Pada pria, kerontokan biasanya diawali dengan mundurnya garis rambut dan penipisan di area ubun-ubun. Kondisi ini dapat terjadi sejak usia 20-an akibat pengaruh hormon dihidrotestosteron (DHT) dan faktor keturunan, bahkan berpotensi menyebabkan kebotakan permanen jika tidak ditangani.

Sementara itu, pada wanita, kerontokan umumnya ditandai dengan penipisan rambut di bagian tengah kepala yang semakin melebar. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh ketidakseimbangan hormon, seperti PCOS dan menopause, maupun stres dan kekurangan nutrisi.

Elisabeth menegaskan bahwa diagnosis yang tepat menjadi langkah penting sebelum menentukan terapi. Menurutnya, setiap kasus kerontokan memiliki penyebab yang berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang sesuai.

"Kerontokan rambut itu tidak semuanya sama. Terapi yang salah bisa memperburuk kondisi dan hanya menghabiskan waktu serta uang," tegasnya.

Nallura Clinic menerapkan pendekatan personal dalam menangani masalah kerontokan rambut, dimulai dari pemeriksaan menggunakan teknologi trikoskopi berbasis kecerdasan buatan (AI). Setelah diagnosis, pasien dapat menjalani berbagai pilihan terapi seperti Platelet-Rich Plasma (PRP), laser Fotona, hingga Regenera Activa EVO Dermomine yang merupakan teknologi cangkok mikro dengan memanfaatkan faktor pertumbuhan dari kulit kepala pasien sendiri.

"Rambut yang sehat itu adalah sebuah perjalanan. Di sini, pasien tidak akan sendirian, kita lakukan konsultasi dan evaluasi rutin setiap bulan untuk memantau perkembangan," ujar dr. Elisabeth.

Nallura Clinic hadir sebagai klinik gaya hidup yang mengusung konsep happy aging, yakni menjaga kesehatan, aktivitas, dan rasa percaya diri di setiap fase kehidupan.

Selain layanan kesehatan rambut, klinik tersebut juga menyediakan perawatan estetika kulit, kesehatan gigi, dan manajemen berat badan dalam satu tempat.

Pewarta: Ida Nurcahyani/Niswah Qintara Rahmani
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: