Health

Kenali Pemicu dan Sinyal Peringatan Migrain Sebelum Kambuh

Jakarta (KABARIN) - Dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif dari Rumah Sakit Universitas Indonesia, dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.N(K), mengingatkan bahwa migrain memiliki berbagai pemicu dan tanda awal yang dapat dikenali sebelum serangan nyeri kepala terjadi.

Dokter yang akrab disapa Sena itu menjelaskan bahwa salah satu pemicu migrain yang paling umum adalah kelelahan akibat aktivitas fisik yang berlebihan.

“Ya jadi kalau migrain itu ada pencetusnya, ada sesuatu yang bisa menyebabkan dia kambuh. Yang paling sering itu misalnya dia kelelahan, banyak aktivitas fisik yang melelahkan,” kata Sena kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Selain kelelahan, kurang istirahat atau kualitas tidur yang buruk juga dapat memicu migrain. Faktor lain yang kerap berperan adalah stres psikologis, tekanan emosional, serta perubahan hormon, khususnya pada perempuan menjelang atau saat menstruasi.

Menurut Sena, beberapa jenis makanan juga dilaporkan dapat memicu migrain pada sebagian orang, meskipun pemicunya tidak selalu sama pada setiap individu.

“Ada juga yang lain itu makanan tapi enggak melulu setiap orang sama. Jadi pencetus ini bisa beda setiap orang. Kalau makanan yang pernah dilaporkan itu misalnya yang ada berbahan cokelat atau yang bisa mengandung juga semacam kayak MSG pengawet itu juga bisa (pemicu migrain),” ujarnya.

Sebelum serangan migrain muncul, sebagian penderita biasanya mengalami gejala awal berupa rasa tidak nyaman pada tubuh, mudah lelah, atau merasa lesu. Gejala tersebut dapat muncul beberapa jam sebelum nyeri kepala terjadi.

Namun, tidak semua penderita mampu mengenali tanda-tanda awal tersebut.

Selain itu, sebagian pasien juga mengalami aura, yakni gejala neurologis yang muncul sekitar satu jam sebelum nyeri kepala. Aura dapat berupa kilatan cahaya, gangguan penglihatan, distorsi visual, hingga kesulitan berbicara.

“Itu macem-macem ada yang kayak kilatan cahaya, kayak melihat sesuatu tuh kayak jadi distorsi ada yang berubah yang tadinya jauh jadi deket, atau bahkan ada yang sampai jadi kesulitan bicara. Jadi ada namanya aura. Petunjuk itu sebenarnya ada, tapi kadang pasien menyadari kadang enggak,” kata Sena.

Ia menjelaskan migrain umumnya ditandai dengan nyeri kepala berdenyut yang menyerang satu sisi kepala, baik kiri maupun kanan. Intensitas nyeri dapat berkisar dari sedang hingga berat dan sering kali mengganggu aktivitas sehari-hari.

Serangan migrain biasanya berlangsung antara empat hingga 72 jam atau maksimal sekitar tiga hari.

“Jadi bukan yang terus-menerus sampai sebulan atau berminggu-minggu gitu, bukan. Migrain ini memang ditandai karakteristiknya dan ada durasinya,” ujar Sena.

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: