Dokter: Vape Justru Bisa Bikin Remaja Makin Pengen Ngerokok

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Penggunaan rokok elektronik atau vape di kalangan remaja ternyata bukan solusi aman seperti yang sering dianggap. Justru sebaliknya, vape bisa jadi pintu masuk ke kebiasaan merokok konvensional karena efek ketergantungan nikotin.

Hal ini disampaikan oleh Dewan Eksekutif Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto. Menurutnya, kandungan nikotin dalam vape tetap bisa memicu adiksi, sehingga pengguna cenderung terus menggunakannya.

“Sekitar 79,5 persen pengguna vape mengalami adiksi. Karena ketergantungan itu, mereka cenderung terus menggunakan,” kata Agus.

Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu menjelaskan, dalam praktiknya kadar nikotin pada vape sering kali tidak cukup memenuhi kebutuhan pengguna yang sudah kecanduan. Akibatnya, mereka mencari sumber nikotin lain, termasuk rokok biasa.

“Sekitar 40 sampai 50 persen pengguna menjadi dual user, menggunakan vape dan rokok konvensional,” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa vape tidak selalu efektif sebagai alat untuk berhenti merokok. Sebaliknya, vape bisa jadi “jembatan” menuju konsumsi produk tembakau lain, terutama di kalangan anak muda.

Agus menilai, banyak remaja awalnya tertarik mencoba vape karena dianggap bagian dari gaya hidup modern dan pengaruh lingkungan sekitar.

“Remaja melihat vape sebagai bagian dari gaya hidup modern, sehingga mudah terpengaruh untuk mencoba, lalu berlanjut karena efek adiksi,” katanya.

Dari sisi kesehatan, dampaknya juga mulai terlihat. Dalam praktik klinis, Agus mengaku sudah menemukan berbagai kasus gangguan paru pada pengguna vape, bahkan dalam waktu yang relatif singkat.

“Kasus yang sering ditemukan antara lain pneumonia, asma, hingga pneumotoraks atau paru-paru bocor,” ujarnya.

Ia juga menyoroti adanya kasus cedera paru akut atau EVALI yang bisa menyebabkan sesak napas berat hingga membutuhkan perawatan intensif.

Menurut Agus, ini jadi bukti bahwa risiko vape bukan cuma jangka panjang, tapi juga bisa muncul dalam waktu singkat, apalagi jika digunakan secara rutin.

Karena itu, ia menegaskan penggunaan vape pada remaja perlu jadi perhatian serius. Selain berisiko pada kesehatan, kebiasaan ini juga bisa memicu ketergantungan sejak dini dan meningkatkan kemungkinan beralih ke rokok konvensional.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka