Ayam Goreng Kampung Pak Pri, Resep Keluarga yang Bikin Nagih

waktu baca 5 menit

Saya biasanya hanya makan paha ayam, tapi di sini saya pasti akan pesan dada karena empuk dan besar

Jakarta (KABARIN) - Berawal dari resep keluarga warisan sang nenek dan ayah yang gemar memasak, restoran Ayam Goreng Kampung Pak Pri (dari penulis kuliner Kevindra Prianto Soemantri) berdiri di Senopati, Jakarta Selatan.

Restoran itu menawarkan pilihan menu yang mengingatkan kepada makanan rumahan: ayam goreng, tahu bacem, tempe bacem, bakwan, mendoan, asem-asem daging, sambal terasi, dan sambal hijau.

Putra Prianto, manajer operasional restoran sekaligus kakak dari Kevin, menjelaskan alasan restoran ini menambah daftar restoran ayam goreng yang sudah menjamur di Jakarta.

Di Indonesia, khususnya Jakarta, ayam goreng telah menjadi bagian dari makanan sehari-hari. Menu ini hampir pasti ada di restoran sampai kaki lima. Setiap malam, kita bisa dengan mudah mendapatkannya di tenda-tenda penjual makanan pinggir jalan.

Dari sekian banyak pilihan, memang ada sejumlah restoran ayam legendaris yang mengusung gaya masakan ayam goreng khas Jawa. Namun, Putra meyakini belum banyak yang menjual ayam goreng ala Yogyakarta dengan bumbu seperti resep keluarganya.

"Ciri khas kita itu adalah keremesan dari biji ketumbarnya itu. Itu yang bikin ciri khasnya kita, dan itu bikin ayamnya legit dan manis di dalam. Dan kita kan pakai ayam kampung, jadi ayamnya sendiri aja udah manis," kata Putra di Jakarta, Selasa (14/4).

Keluarga Putra dan Kevin memang berasal dari Yogyakarta dan Magelang. Ia mengatakan hidangan yang ditawarkan bisa dibilang merupakan paduan Yogyakarta-Magelang.

Nama restorannya sendiri diambil dari nama sang ayah, Prianto, sebagai bentuk penghormatan kepada ayah yang mencintai dunia kuliner.

Putra mengenang masa-masa ketika ia menikmati masakan ayah yang mencurahkan seluruh perasaannya untuk menciptakan makanan terlezat bagi keluarga.

Kehangatan dan kekeluargaan itulah yang ingin ia tularkan kepada konsumen yang menikmati ayam goreng tersebut.

Tempe mendoan di Ayam Goreng Pak Pri, Jakarta, Selasa (14/4). (ANTARA/Nanien Yuniar)

Bukan hal mudah mengulik resep warisan ayah. Menurut Putra, resep ayam goreng kampung kremesan biji ketumbar itu salah satu yang tersulit.

Banyak tahapan uji coba yang dilewati untuk memastikan ada keseimbangan antara nikmatnya rasa ayam goreng yang renyah di luar, lembut di dalam, serta bumbu kremes ketumbar yang terkaramelisasi tanpa rasa pahit.

Ukuran ayam pun berpengaruh. Jika ayam terlalu kecil, bumbunya jadi terlalu dominan dan berpotensi menimbulkan rasa terlalu pahit. Setelah trial and error, akhirnya formula yang tepat pun ditemukan.

Tak perlu khawatir ayam kampung bakal alot, sebab restoran ini hanya mengolah ayam dalam kondisi segar, bukan ayam yang sudah melewati proses pembekuan.

"Ayam kampung itu diungkep biasa 1-2 jam. Kita cuma butuh sekitar waktu 45 menit. Karena ayamnya fresh, jadi begitu sampai langsung kita potong, kita olah, kita ungkep," ungkap dia.

Dari luar, tampilannya seperti ayam goreng biasa, bahkan terlihat cokelat kehitaman seperti gosong. Namun, itu sebenarnya adalah kremes biji ketumbar yang sudah terkaramelisasi. Legit, tapi tidak terlalu dominan. Dagingnya pun terasa lembut, termasuk bagian dada yang biasanya kering.

"Saya biasanya hanya makan paha ayam, tapi kalau mau makan di sini pasti akan pesan dada karena empuk dan besar," kata Putra.

Ayam Goreng Pak Pri, ayam goreng kremes biji ketumbar ala Yogyakarta, di Jakarta, Selasa (14/4). (ANTARA/Nanien Yuniar)

Resep warisan keluarga juga jadi kisah di balik tahu dan tempe bacem yang jadi pelengkap hidangan.

Menu ini bukan diturunkan dari resep ayah, melainkan resep nenek yang disempurnakan oleh adiknya si pegiat dunia kuliner.

Berbeda dari baceman pada umumnya yang dominan manis, ada rasa gurih yang seimbang. Untuk tahu, bahan yang dipakai adalah tahu cina yang empuk saat digigit.

Sambal terasi dan sambal hijaunya juga merupakan resep turun temurun. Dua kombinasi ini jadi pelengkap dari menu yang didominasi rasa manis-gurih. Sambal hijaunya sedikit lebih pedas ketimbang sambal terasi, tetapi sama-sama nikmat ketika dimakan bersama nasi wangi.

Namanya diambil dari istilah nasi dengan rempah yang dibuat oleh ayah Kevin dan Putra.

"Nasi wangi itu nasi dengan campurah serai dan daun salam, tapi kita tidak pakai santan. Kalau santan kan jadi nasi uduk," tutur Putra.

Aroma nasi yang dicampur dengan serai, daun salam, dan sedikit garam bakal menggoda indera penciuman sehingga konsumen jadi lebih lahap saat makan.

Sambal terasi dan sambal hijau pelengkap ayam goreng kremes biji ketumbar ala Yogyakarta, di Jakarta, Selasa (14/4). (ANTARA/Nanien Yuniar)

Jika makan sendirian, Anda bisa memilih paket menu yang berisi nasi, ayam seperempat ekor, baceman, serta sambal. Bila makan beramai-ramai, seekor ayam utuh bisa menjadi pilihan, pas untuk makan 3-4 orang. Paket ayam goreng satu ekor ini sudah meliputi kepala ayam dan ceker ayam, lho.

Kremesan yang diberikan juga cukup banyak, sehingga tidak perlu berebut. Padukan daging ayam, kremesan, potongan tahu dan tempe serta sambal terasi atau sambal hijau, lalu suapkan ke dalam mulut. Lezat!

Restoran ini berlokasi di area perkantoran, di antara gedung-gedung mewah bertingkat tempat para pekerja Jakarta wara-wiri mencari nafkah. Padatnya lalu lintas Jakarta di area Senopati membuat tempat ini bisa jadi opsi makan siang tanpa harus repot-repot pergi jauh. Harga yang dipatok lumayan juga sesuai dengan daya beli orang-orang yang bekerja di area Senopati.

"Dan kita lihat trafiknya, orang-orang yang ke sini, dan daya belinya juga, cocok," ujar Putra.

Harga ayam goreng satuan seperempat ekor di sini Rp28.000, sementara seporsi paket ayam goreng harganya Rp60.000. Sementara paket ayam goreng satu ekor yang bisa dinikmati beramai-ramai harganya Rp250.000.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka