Dokter RSUI Ungkap Faktor Pemicu Stroke, dari Genetik hingga Gaya Hidup

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Stroke tidak terjadi begitu saja. Menurut dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.N(K), ada banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami stroke, terutama yang berkaitan dengan kesehatan pembuluh darah.

Stroke sendiri merupakan penyakit vaskular yang menyerang pembuluh darah di otak. Karena itu, berbagai gangguan pada pembuluh darah dapat menjadi pemicu terjadinya kondisi tersebut.

“Ketika stroke ini terjadi, memang ada banyak faktor risiko yang terlibat di sana. Ada darah tinggi, diabetes, sakit jantung, dan faktor-faktor yang tidak bisa dikontrol, misalnya ada keturunan,” kata dokter yang akrab disapa Sena itu kepada ANTARA, di Jakarta, Jumat.

Sena menjelaskan, stroke sering kali berkaitan dengan masalah kesehatan lain yang sudah dialami pasien sebelumnya, seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung. Karena itu, penanganan pasien stroke tidak hanya berfokus pada stroke itu sendiri, tetapi juga penyakit penyerta yang dapat memperburuk kondisi.

Selain itu, faktor genetik juga berperan dalam meningkatkan risiko stroke. Riwayat keluarga, kelainan pembuluh darah, hingga gangguan kekentalan darah dapat menjadi pemicu seseorang terkena penyakit tersebut.

Menurut Sena, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa riwayat stroke dalam keluarga memang dapat meningkatkan risiko. Bahkan, beberapa literatur menyebutkan bahwa sekitar 20 persen pasien stroke memiliki anggota keluarga yang juga pernah mengalami kondisi serupa.

“Dan itu menunjukkan bahwa ketika ada orang tua yang mengalami stroke, maka penting sekali untuk keturunannya, anak-anaknya itu, untuk menjaga pola hidupnya, mendeteksi dini faktor risikonya,“ ujar dia.

Sena juga menyoroti meningkatnya jumlah kasus stroke dalam beberapa dekade terakhir. Menurut dia, hal itu bisa dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan serta kemajuan teknologi yang membuat deteksi kasus menjadi lebih baik.

“Memang stroke ini menjadi suatu tantangan ya. Saya masih ingat ketika mungkin 20 tahun lalu itu semboyannya masih kayak kita bilangnya ‘satu dari enam’ akan mengalami stroke. Tapi kalau sekarang bahkan bisa ‘satu dari empat’, artinya itu semakin banyak,” imbuh dia.

Selain faktor deteksi yang semakin baik, perubahan gaya hidup modern juga dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya risiko stroke. Pola makan yang bergeser dari makanan alami ke makanan ultra-proses, minimnya aktivitas fisik, hingga kebiasaan merokok menjadi faktor yang patut diwaspadai.

Tak hanya itu, tekanan mental dan stres yang muncul di era media sosial juga disebut turut berpengaruh terhadap kesehatan pembuluh darah.

“Tapi karena tadi, bagaimana dia jarang olahraga, merokok, mengonsumsi makanan-makanan yang tidak sehat, itulah yang membuat berisiko. Dan juga stresor itu juga kita enggak bisa pungkiri dengan kemajuan sosial media yang dialami zaman sekarang,” katanya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka