"Jokes Bapak-bapak" Ternyata Bisa Bantu Kesehatan Otak

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Siapa sangka lelucon khas bapak-bapak atau yang sering disebut dad jokes ternyata bukan sekadar candaan garing yang bikin geleng-geleng kepala. Di balik permainan kata yang sederhana dan sering kali mudah ditebak, ternyata ada manfaat positif bagi kesehatan otak.

Hal ini terungkap dalam sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di PsyArXiv, repositori pracetak akses terbuka untuk penelitian psikologi.

Dalam studi tersebut, psikolog Paul J. Silvia dari University of North Carolina at Greensboro dan Meriel I. Burnett dari University of Massachusetts Amherst meneliti karakteristik khas dari dad jokes. Mereka menemukan bahwa jenis humor ini sangat mengandalkan permainan kata, plesetan, serta struktur lelucon yang sederhana.

Menurut para peneliti, berbeda dengan komedi yang lebih rumit dan membutuhkan konteks tertentu untuk dipahami, lelucon ala bapak-bapak cenderung mudah dimengerti oleh berbagai kelompok usia. Karena itu, dad jokes dapat menjadi sarana untuk berbagi tawa bersama lintas generasi.

Tak hanya menghibur, tertawa juga diketahui memiliki dampak positif bagi tubuh dan otak. Saat seseorang tertawa, tubuh akan menurunkan produksi hormon stres seperti kortisol dan epinefrin. Di saat yang sama, tubuh meningkatkan produksi zat kimia yang berkaitan dengan perasaan senang dan nyaman, seperti dopamin, serotonin, serta endorfin.

Manfaat ini juga didukung oleh tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One pada 2023. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa satu sesi tertawa saja dapat menurunkan kadar hormon kortisol hingga lebih dari 36 persen.

Ketika tingkat stres menurun, area otak seperti korteks prefrontal menjadi lebih aktif. Bagian otak ini berperan penting dalam membantu seseorang memproses ide-ide kompleks, mengambil keputusan, dan berpikir secara lebih fleksibel.

Selain itu, berbagai penelitian sebelumnya juga mengaitkan kemampuan memahami permainan kata dengan keterampilan verbal, kreativitas, serta kemampuan menghubungkan berbagai makna yang berbeda.

Manfaat humor juga terlihat pada perkembangan anak. Pakar perkembangan anak usia dini dari Middlesex University, Jacqueline Harding, mengatakan bahwa tawa dapat menjadi tanda bahwa otak anak sedang bekerja dan berkembang.

Menurut Harding, ketika anak-anak tertawa, mereka sebenarnya sedang belajar, membangun hubungan sosial, dan mengembangkan kemampuan berpikir.

Dalam bukunya yang berjudul The Brain That Loves to Laugh, Harding menjelaskan bahwa kegembiraan bukan sekadar perasaan menyenangkan, melainkan bagian penting dari proses biologis yang membantu anak menghadapi stres dan menjadi lebih tangguh dalam belajar.

“Harapan dan humor tampaknya bukan sekadar pelengkap kehidupan, melainkan bagian mendasar dari resep perkembangan yang sehat,” tulisnya.

Manfaat tertawa juga tidak berhenti pada kesehatan mental dan perkembangan otak saja. Dalam lingkungan keluarga, berbagi tawa bersama dapat meningkatkan produksi oksitosin, hormon yang berperan memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.

Selain itu, aktivitas tertawa bersama juga membantu proses yang dikenal sebagai co-regulation, yaitu kemampuan mengelola emosi secara bersama-sama melalui interaksi sosial yang positif.

Proses ini membantu seseorang mengatasi stres dengan memanfaatkan pengalaman menyenangkan dan rasa aman yang tercipta dari hubungan yang hangat dengan orang lain.

Harding menambahkan bahwa permainan yang kreatif dan menyenangkan bekerja sangat efektif bagi perkembangan otak, terutama ketika seseorang berada dalam kondisi yang paling siap untuk belajar.

“Permainan spontan yang penuh kegembiraan merupakan penawar stres karena meningkatkan kadar endorfin yang dilepaskan oleh otak,” kata Harding.

Jadi, lain kali saat mendengar lelucon bapak-bapak yang terdengar receh atau garing, jangan langsung mengernyitkan dahi. Bisa jadi, tawa yang muncul setelahnya justru sedang memberi manfaat bagi kesehatan otak dan membantu mengurangi stres.

Sumber: New York Post

Bagikan

Mungkin Kamu Suka