Jakarta (KABARIN) - Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dinilai memudahkan berbagai aktivitas melalui otomatisasi. Namun, penggunaan yang berlebihan berisiko mengurangi kemampuan berpikir mandiri karena otak semakin jarang dilatih memproses informasi dan memecahkan masalah.
Konsultan senior neurologi di Dharamshila Narayana Hospital, Delhi, Dr. MS Panduranga mengatakan salah satu dampak penggunaan AI secara berlebihan adalah berkurangnya upaya mental dalam menjalankan fungsi kognitif.
“Ketika AI banyak digunakan untuk mengingat, bernalar, atau memecahkan masalah, otak dengan cepat belajar bahwa ia tidak perlu lagi melakukan pekerjaan itu sendiri, dan seiring waktu, ini dapat secara diam-diam mengubah bagaimana informasi diproses dan disimpan," kata Panduranga, dikutip dari Hindustan Times, Kamis (25/6).
Menurut dia, perubahan fungsi otak akibat ketergantungan pada teknologi sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, manusia telah mengandalkan kalkulator, GPS, peta, hingga mesin pencari untuk meringankan pekerjaan mental.
Namun, AI memiliki kemampuan yang lebih luas karena dapat menulis, bernalar, hingga menciptakan berbagai konten sesuai kebutuhan pengguna. Kemampuan tersebut membuat AI mampu mengambil alih lebih banyak tugas kognitif dibandingkan teknologi sebelumnya.
Panduranga juga menilai penggunaan AI yang berlebihan dapat mengurangi spontanitas seseorang dalam menghasilkan ide. Pasalnya, ketika seseorang langsung mengandalkan AI tanpa berusaha mengingat atau mencari solusi sendiri, otak kehilangan kesempatan untuk melatih daya ingat dan kemampuan berpikir.
“Kemampuan mendapatkan jawaban secara instan setiap saat juga bisa membuat perhatian lebih mudah terpecah, karena pikiran terbiasa mengharapkan respons cepat daripada mempertahankan fokus dalam waktu lama,” tutur dia.
Ia menambahkan, kreativitas serta kemampuan memecahkan masalah juga berpotensi menurun apabila seseorang terlalu bergantung pada AI.
Meski demikian, Panduranga menilai solusi bukanlah melarang penggunaan AI, melainkan memanfaatkannya secara bijak sebagai alat pendukung proses belajar dan kreativitas, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir.
“Cobalah menjawab pertanyaan apa pun secara mandiri terlebih dahulu, lalu gunakan AI untuk menguji, memperbaiki, atau menyempurnakan alasan dan pemikiran Anda,” kata dia.
Sumber: Hindustan Times