Kesepian Kronis Bisa Ganggu Fungsi Otak, Ahli Ungkap Dampaknya

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Kesepian tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi otak jika berlangsung dalam jangka panjang. Para ahli menyebut kesepian kronis dan isolasi sosial berpotensi mengganggu daya ingat, fungsi kognitif, hingga meningkatkan risiko gangguan neurologis.

Dikutip dari Hindustan Times, Ketua Grup Neurologi Rumah Sakit Yatharth di India, Dr. Kunal Bahrani, mengatakan hubungan sosial memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan otak karena mampu merangsang fungsi kognitif, mengatur emosi, dan membantu menjaga respons tubuh terhadap stres.

"Ketika seseorang mengalami kesepian yang berkepanjangan, otak dapat tetap dalam keadaan kewaspadaan tinggi, yang menyebabkan peningkatan kadar hormon stres seperti kortisol," katanya.

"Seiring waktu, ini dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, memori, dan suasana hati," ia menambahkan.

Menurut Bahrani, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kesepian kronis berkaitan dengan perubahan pada area otak yang mengatur emosi, pembelajaran, dan pengambilan keputusan. Kurangnya interaksi sosial juga membuat otak kehilangan stimulasi yang dibutuhkan untuk mempertahankan kemampuan kognitif, terutama seiring bertambahnya usia.

"Hubungan sosial bagi otak sama pentingnya dengan olahraga bagi tubuh," kata Dr. Bahrani.

"Percakapan, pengalaman bersama, dan hubungan terus menerus mengaktifkan berbagai jaringan kognitif. Ketika interaksi tersebut berkurang, otak menerima lebih sedikit stimulasi," lanjutnya.

Sementara itu, ahli neurologi dari Apollo Speciality Hospitals di Chennai, Dr. Sreenivas UM, mengatakan berbagai penelitian terbaru mengaitkan kesepian dengan meningkatnya risiko demensia.

"Studi-studi terbaru menunjukkan bahwa kesepian dapat menghasilkan perubahan struktural di otak, khususnya di wilayah yang terlibat dalam memori, penalaran, berpikir, dan pengambilan keputusan," katanya.

Ia menjelaskan bahwa isolasi sosial juga dapat memperburuk kondisi penderita gangguan neurologis, seperti stroke, epilepsi, penyakit Parkinson, multiple sclerosis, hingga demensia. Selain itu, hasil pencitraan otak menunjukkan area yang dipengaruhi kesepian serupa dengan bagian otak yang aktif saat seseorang merasakan nyeri fisik.

Menurutnya, kesepian berkepanjangan juga dapat menurunkan aktivitas pada jalur penghargaan di otak sehingga interaksi sosial terasa kurang menyenangkan. Kondisi tersebut berpotensi menciptakan siklus yang membuat seseorang semakin menarik diri dari lingkungan.

Meski demikian, para ahli menegaskan kesepian bukanlah kondisi permanen karena otak memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Mereka menyarankan masyarakat membangun hubungan sosial yang sehat, mempelajari keterampilan baru, menekuni hobi, rutin berolahraga, serta aktif dalam kegiatan komunitas untuk membantu menjaga kesehatan otak dan fungsi kognitif dalam jangka panjang.

Sumber: Hindustan Times

Bagikan

Mungkin Kamu Suka