Jakarta (KABARIN) - Kehamilan di usia 40-an kini menjadi tren di AS, termasuk di kalangan selebritas Hollywood seperti Anne Hathaway (43), Sienna Miller (44) dan Claire Danes (47).
Pusat Pencegahan dan Kendali Penyakit di Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention) mencatat angka kelahiran pada perempuan berusia di atas 40 tahun telah melampaui kehamilan remaja, yang sekaligus menantang stigma lama mengenai usia ideal untuk menjadi seorang ibu.
"Kita tidak menilai pria yang memiliki anak di usia 80-an, jadi mengapa ada narasi apa pun terkait keputusan perempuan hamil di usia matang?" ujar aktris Sienna Miller yang memiliki anak pertamanya pada usia 29 dan yang kedua pada usia 41, dilansir dari laporan New York Post, Jumat.
Secara medis, para pakar reproduksi menekankan bahwa meskipun kehamilan di usia 40-an mungkin terjadi, risiko kesehatan seperti keguguran, kelainan kromosom, serta komplikasi kehamilan memang cenderung meningkat.
Keberhasilan kehamilan pada perempuan berusia matang sering kali melibatkan teknologi reproduksi, seperti bayi tabung atau pembekuan sel telur yang memungkinkan penundaan masa reproduksi secara biologis.
"Jika peluang pembuahan bulanan adalah lima persen, seseorang tentu bisa — dan pasti akan — berhasil mencapai kehamilan tersebut," kata dokter spesialis gangguan sistem endokrin dan Chief Clinical Officer di Extend Fertility, dr. Joshua Klein, dalam laporan yang sama.
Salah satu faktor utama yang mendukung pergeseran tren ini adalah kemajuan teknologi penyimpanan sel telur yang dilakukan di usia muda.
Prosedur itu memungkinkan perempuan untuk menjaga kualitas sel telur mereka tetap stabil meskipun usia kronologis mereka terus bertambah seiring berjalannya waktu.
"Jika sel telur atau embrio dibekukan, disimpan, dan dicairkan dengan benar, waktu pada dasarnya berhenti (tidak akan menua meski ibu bertambah usia selama masa penyimpanan)," kata Direktur Pusat Fertilitas Universitas Columbia, dr. Zev Williams, mengenai peran teknologi dalam menjaga peluang kehamilan.
Di sisi lain, kondisi kesehatan fisik secara umum menjadi penentu keberhasilan kehamilan yang sangat signifikan di samping faktor usia.
Pemantauan ketat terhadap kondisi kardiovaskular dan gaya hidup sehat dapat membantu memitigasi risiko komplikasi serius saat menjalani kehamilan di usia yang lebih lanjut.
"Saya lebih memilih (menangani pasien) seorang wanita berusia 43 tahun yang sehat daripada wanita berusia 30 tahun dengan berbagai kondisi medis untuk menjalani kehamilan," kata dokter spesialis bantuan kehamilan di CCRM Fertility New York dr. Sheeva Talebian.
Tren pun mulai menggeser pandangan masyarakat yang selama ini menganggap usia 35 tahun sebagai batas akhir masa subur bagi perempuan.
Fokus kini beralih pada dukungan holistik terhadap pilihan hidup individu, di mana kesiapan mental dan kestabilan finansial menjadi poin penting dalam membesarkan anak.
"Harapan itu penting, namun informasi yang akurat mengenai risiko dan prosedur medis juga sama pentingnya bagi setiap calon ibu," kata dr. Joshua Klein.
Sumber: New York Post