Dokter: Perubahan Hormon Saat Menstruasi Bisa Picu Diare dan Gangguan Pencernaan

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Dokter kandungan, ginekolog, dan ahli uroginekologi di Rumah Sakit Wanita dan Anak KK (KKH), Jill Lee, mengungkapkan perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron selama siklus menstruasi dapat memicu gangguan pencernaan, termasuk diare.

Dikutip dari Channel News Asia, Senin (29/6), Lee menjelaskan peningkatan hormon progesteron setelah ovulasi membuat proses pencernaan melambat sehingga berpotensi menyebabkan sembelit.

Ia menerangkan estrogen dan progesteron memiliki peran penting dalam mengatur pergerakan usus. Pada paruh pertama siklus menstruasi kadar estrogen meningkat, kemudian progesteron naik setelah ovulasi. Kedua hormon tersebut tetap tinggi hingga akhirnya menurun apabila tidak terjadi kehamilan.

Menurut Lee, perubahan kadar kedua hormon itu membuat kondisi usus ikut berubah sehingga sebagian perempuan dapat mengalami sembelit yang kemudian berganti menjadi diare.

Menjelang menstruasi, kadar estrogen dan progesteron turun secara drastis. Penurunan ini menyebabkan kontraksi otot usus menjadi lebih cepat sehingga proses buang air besar berlangsung lebih sering dan tinja menjadi lebih encer.

Lee menambahkan sejumlah kondisi kesehatan dapat membuat perempuan lebih rentan mengalami gangguan pencernaan selama menstruasi, salah satunya Irritable Bowel Syndrome (IBS). Penderita IBS memiliki sensitivitas nyeri usus yang lebih tinggi sehingga gejalanya kerap memburuk ketika menstruasi.

Ia menyebut penelitian menunjukkan sekitar 40 hingga 50 persen perempuan dengan IBS mengalami peningkatan gejala seperti kram perut, perut kembung, diare, hingga sembelit selama masa menstruasi.

Selain IBS, perempuan yang mengalami Inflammatory Bowel Disease (IBD) juga sering merasakan gejala pencernaan yang semakin berat menjelang dan saat menstruasi, seperti nyeri perut, demam, inkontinensia feses, munculnya lendir pada tinja, dengan diare menjadi keluhan yang paling umum.

Sementara itu, Konsultan Dokter Keluarga di Tucker Medical, Dr. June Tan Sheren, mengatakan peningkatan prostaglandin selama menstruasi turut memengaruhi saluran pencernaan. Senyawa yang menyerupai hormon tersebut berfungsi mengatur peradangan, aliran darah, rasa nyeri, serta kontraksi rahim.

Menurut Sheren, meningkatnya kadar prostaglandin tidak hanya memicu kontraksi rahim, tetapi juga mempercepat gerakan usus sehingga banyak perempuan mengalami buang air besar lebih sering dan lebih encer selama menstruasi.

Ia juga menjelaskan bahwa stres, gangguan suasana hati, dan kecemasan dapat meningkatkan sensitivitas usus sehingga keluhan pencernaan saat menstruasi menjadi lebih berat.

Selain diare, banyak perempuan juga mengalami perut kembung beberapa hari sebelum menstruasi sebagai bagian dari gejala sindrom pramenstruasi (PMS). Kondisi tersebut dipengaruhi kadar progesteron yang lebih tinggi sehingga makanan bergerak lebih lambat di usus besar dan memicu sembelit.

Sheren menambahkan perubahan hormon pada fase pramenstruasi juga menyebabkan retensi cairan dan peningkatan sensitivitas usus. Akibatnya, perempuan dapat merasakan perut terasa penuh, berat, dan lebih mudah merasakan kembung meski jumlah gas atau cairan di dalam usus masih dalam batas normal.

Sumber: Channel News Asia

Bagikan

Mungkin Kamu Suka