Tokyo (KABARIN) - Kelompok negara maju yang tergabung dalam G7 dikabarkan akan menggelar pertemuan virtual untuk membahas cara meredam kenaikan harga minyak mentah yang terjadi akibat memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.
Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada Senin waktu setempat itu akan melibatkan para menteri keuangan, menteri energi, hingga pimpinan bank sentral dari negara anggota. Salah satu opsi yang muncul dalam agenda pembahasan adalah pelepasan tambahan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi.
Langkah tersebut dipertimbangkan sebagai respons atas gangguan pasokan energi global yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, yang berdampak pada jalur distribusi minyak dunia.
Situasi semakin rumit setelah jalur penting pengiriman minyak yaitu Selat Hormuz dilaporkan terdampak pembatasan, sehingga memicu kekhawatiran gangguan pasokan dan mendorong harga minyak dunia naik.
Sebelumnya, lembaga energi internasional International Energy Agency atau IEA telah mulai melepas cadangan minyak dalam jumlah besar yang mencapai lebih dari 400 juta barel sebagai upaya stabilisasi pasar.
Langkah tersebut menjadi salah satu aksi koordinasi besar pertama sejak krisis energi global pada 2022 ketika perang Rusia dan Ukraina memicu gejolak pasokan energi dunia.
Dari total cadangan yang dilepas, Jepang menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan hampir 80 juta barel, sementara Amerika Serikat menyumbang lebih dari 170 juta barel.
Jepang sendiri diketahui sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah untuk memenuhi lebih dari 90 persen kebutuhan impornya.
Sebelumnya, para menteri keuangan G7 telah lebih dulu melakukan pembicaraan pada awal Maret, disusul pertemuan para menteri energi yang menyepakati kesiapan untuk mengambil langkah tambahan jika kondisi pasar memburuk.
G7 yang saat ini dipimpin oleh Prancis beranggotakan Inggris, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Amerika Serikat, serta Uni Eropa, dan terus memantau perkembangan harga energi global di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026