Kota Jambi (KABARIN) - Psikolog Kota Jambi Eka Renny Yustisia menilai aturan pemerintah berupa Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau PP Tunas menjadi langkah penting untuk melindungi anak dari dampak negatif penggunaan media sosial.
Menurutnya, kebijakan ini hadir sebagai upaya pencegahan agar anak tidak mudah terpapar konten yang bisa memengaruhi perkembangan mereka.
Eka menjelaskan bahwa aturan ini dapat membantu menciptakan ruang digital yang lebih aman sehingga remaja bisa tumbuh secara emosional dan kognitif tanpa tekanan sosial yang berlebihan dari dunia maya.
Ia juga menyoroti bahwa perkembangan otak remaja, khususnya bagian yang mengatur emosi dan pengambilan keputusan, belum sepenuhnya matang hingga usia awal 20-an. Kondisi ini membuat anak lebih rentan terhadap pengaruh konten di media sosial.
Salah satu dampaknya adalah munculnya pandangan yang keliru, seperti anggapan bahwa pernikahan dini adalah hal yang wajar atau bahkan solusi cepat tanpa memahami konsekuensi jangka panjangnya.
Eka juga menyinggung fenomena Fear of Missing Out atau Fomo yang membuat remaja mudah terpengaruh gaya hidup di media sosial, terutama tren yang terlihat ideal namun tidak menggambarkan realitas sebenarnya.
"Pembatasan akses akun mandiri bagi anak di bawah usia 16 tahun menjadi bentuk perlindungan penting agar mereka tidak terpapar dorongan untuk bersikap dewasa sebelum waktunya," katanya.
Menurutnya, aturan ini juga dapat membantu mengurangi ketergantungan anak terhadap media digital yang dipicu oleh sistem algoritma platform yang memicu respons cepat di otak.
Ia menambahkan bahwa tanpa pengawasan yang baik, interaksi di dunia digital bisa membuka risiko seperti manipulasi oleh orang dewasa, paparan konten tidak pantas, hingga eksploitasi yang berdampak serius pada masa depan anak.
"Kami sangat mendukung kebijakan PP Tunas ini, namun tetap mengingatkan bahwa regulasi digital hanyalah satu sisi mata uang, sedangkan sisi lainnya adalah edukasi dalam keluarga, sebab tanpa dialog yang sehat antara orang tua dan anak, anak-anak mungkin tetap mencari cara untuk mengakali sistem," ujarnya.
Sumber: ANTARA