Bank Indonesia terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik
Jakarta (KABARIN) - Bank Indonesia (BI) memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan stabilitas rupiah tidak bisa dijaga oleh bank sentral saja, melainkan membutuhkan dukungan dan koordinasi dari seluruh pihak terkait.
“Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” kata Ramdan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, BI terus memantau perkembangan pasar keuangan global maupun domestik guna merespons berbagai dinamika yang berpotensi memengaruhi nilai tukar rupiah.
Bank sentral juga memastikan tetap aktif berada di pasar dengan menjalankan berbagai instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur demi menjaga stabilitas rupiah serta memperkuat ketahanan sektor eksternal Indonesia.
“Bank Indonesia terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” ujar Ramdan.
Sebagai bagian dari langkah penguatan stabilitas nilai tukar, BI mulai memberlakukan aturan baru sejak 2 Juni 2026 terkait batas pembelian valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying sebesar 25.000 dolar AS per pelaku dalam satu bulan.
Selain itu, BI terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara melalui skema local currency transaction (LCT). Kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus meminimalkan risiko gejolak nilai tukar.
Saat ini kerja sama LCT Indonesia telah berjalan dengan sejumlah negara, yakni China, Japan, Malaysia, Thailand, South Korea, dan United Arab Emirates.
Langkah-langkah tersebut dilakukan di tengah tekanan terhadap rupiah yang masih dipengaruhi ketidakpastian global serta tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik.
Sumber: ANTARA